Curhatan Arya tentang roda dua

Assalamu Alaikum wr.wb.

Akhirnya memberanikan diri untuk ngeblog lagi, setelah sebelumnya sering ngirim blog2 dan kandas nyangkut ke internet….diback ga bisa alias hilang tulisan panjang lebar saya 😦

Anyway hari ini, senin tgl 15 juni 2015 saya pengen perpanjang stnk tahunan NS saya, yang kebetulan pake KTP temen kantor. KTP saya yang dulu masih di cimahi. Kata mertua dan bacaan dari 1 blog bahwa pendaftaran di samsat outlet Pasteur Hyper Point (PHP) ini ditutup jam 11.00. ternyata ketika tadi saya kesitu jam 12.50an masih ada yang ngantri di depan mesin tiket. Alhasil saya ikutan ngantri 😀

Jam 13.00 pas, petugas menyalakan mesin tiket tersebut dan yang antri mulai mendapat nomor antrian, saya sendiri dapat nomor 022. Feeling saya, bahwa mungkin ada 2 babak pengurusan pajak tahunan, yakni sebelum dan sesudah istirahat. Ternyata feeling saya bener.

Saya cari makan diluar PHP, soalnya kalo makan disini mahal :p dan tepat jam 13.30 saya jalan kaki kembali ke PHP. ternyata sudah ada pemanggilan, yaitu 10 nomor pertama. dipanggilnya per 10 orang/antrian. Sambil menunggu, saya bertanya2 ke orang yang ternyata udah pernah perpanjang pajak disitu. Prosedurnya : ambil 2 nomor (tombol di mesin tiketnya teken 2x untuk dapat 2 nomor yang sama) , tunggu dipanggil, siapkan ktp asli, pajak asli, dipanggil ke loket pendaftaran 1, bawa semua dan kasih 1 nomor.

Kemudian kembali ke kursi (kalo dapet), tunggu dipanggil dan siapkan uang pas (kalo bisa). kalo ada masalah, nomor kita dipanggil untuk berkonsultasi ke loket pendaftaran 2.

Saya hanya menunggu sekitar 20 menit sampe nomor 022 dipanggil. Bayar Rp. 324.000 (2rb nya untuk PMI) dan dapet semua berkas di awal tadi (KTP, pajak yang udah distempel, bukti bayar PMI dan stiker SWDKLLJ). Pulang deh 😀

Oiya, plastik pembungkus STNKnya jangan diberi ke mereka, simpan aja buat wadah STNK yang baru. Habis itu? pulang deh 😀 😀

Wassalam 🙂

Advertisements

Hari ke-4 : SENIN

Setelah jam 3an dibangunin Nova dan gagal ke CIkunir, kami tidur lagi. Jam 7an kami bangun dan lagi-lagi Shalat Subuh terlewat. Nova ngajakin main sekaligus syuting ke daerah masjid kesana dan Candi-candi. Setelah nyawa terkumpul, saya lihat peta dibawah kalo ke arah Cikunir itu palingan liat-liat Telaga Warna. Oh iya mandinya kami lewatin agak siangan biar ga kedinginan.

Setelah ritual pagi berupa sikat gigi, mascara, eyeshadow, eyeliner, ga lupa bedak dan lipstick, walopun tanpa mandi, kami pede keluar dan momotoran ke arah Barat. Saya kira jauh ternyata pintu masuk Telaga Warna itu ga nyampe 2 km dari guest house. Parkir motor di seberang loket, kami bayar Rp.3.000 untuk motor. Agak mahal juga walaupun sekarang bukan weekend. Kemudian kami masuk ke Telaga Warna lewat pintu depan. Di loketnya, kami bayar Rp. 7.500 untuk 1 orang. Kemudian ada 1 orang yang nawarin diri menjadi tour guide, namun kami tolak karena kami ingin suasana romantis berdua (hoeekk). Kami sandal masuk lalu di pertigaan pertama belok ke kiri, karena di peta yang ada di pintu masuk, ke kiri itu kami bisa melihat view Telaga dari atas bukit (tentunya harus naik gunung tapi tidak terlalu tinggi kok) hanya sandal pilhan saya salah sehingga agak licin, beda ama sendal gunung Nova. Setelah berjalan kaki naik sekitar 15 menit, kami sampai di puncaknya….sebenernya ada puncaknya lagi tapi spot ini udah sangat bagus untuk ……narsis

20141208_082250 (Large) 20141208_082315 (Large) 20141208_085353 (Large)

Sambil narsis, saya kirim-kirim foto ke grup WA dan ke instagram, karena disini ada sinyal Simpati. SInyal XL yang Nova pakai tidak ada, jadinya dia tethering ke saya Kalo naiknya tadi cape di paha, sekarang kalo turunnya bikin cape betis karena nahan grip sendal yang licin -_- Untunglah saya nyampe di bawah dengan selamat, lalu lanjut ke sebelah kiri dari pertigaan tadi, yakni ke arah Komplek Gua (ada Gua Semar, Gua Jaran, Batu Tulis dan Kolam kecil di Gua Sumur) . Sayang karena hari sudah agak siang, kami hanya jalan-jalan sampe ke Batu Tulisnya saja. Ada patung yang mirip patung Gajahmada (CMIIW) di depan Batu Tulisnya, dan kami foto-foto disitu saja, soalnya udah makin siang dan kami belum main ke Kawasan Candi Dieng.

Pada saat kami jalan naik ke atas bukit, kami melihat ada 1 gerbang masuk dan 1 lokasi sebelah tembok yang tidak dijaga sama sekali. Payah nih, kalau kami tahu, kami masuk lewat sini aja. Bukannya menghemat Rp 7.500, tapi penjagaannya kurang bagus, perlu jadi catatan bagi pengelola Dieng.

Anyway, kami berjalan kaki ke motor, karena kalau merangkak itu terlalu ekstrim. Pada saat motor menyala, hujan gerimis mulai turun, membuat kami bergegas mencari Pintu masuk ke Candi Dieng. Eh ternyata dari guest house ga jauh juga, ada sekitar 500 meter. Dari guest house, ambil arah ke Pekalongan, lalu pertigaan kecil pertama ke kiri, kelihatan kok dari plang namanya. Sayang seribu saying, tidak ada tulisan / papan nama Candi ini di depan, sehingga narsis ama motor ga akan bisa. Kalau di dalam ada. Saat mau parkir motor, kami kebetulan berpapasan dengan petugas tiket dan saya bayar tiket masuknya, hanya Rp 5.000 per orang. Saat itu hujan udah agak membesar, jadi setelah motor diparkirkan, kami bergegas ke warung sebelah pintu masuk (yang tidak ada petugasnya) dan bertanya-tanya tentang Buah Carica dan Kopi Purwaceng. Eh malah ditawarin Kopinya, ya udah kebetulan belum ngopi, apalagi Nova memesan kentang untuk ganjel perut. Kentangnya pake bumbu aneka rasa seperti di mall, namun kentangnya besar-besar dengan harga hanya Rp. 10.000…..murah dan enak bingits !

Setelah makan, hujannya galau. Kadang berhenti kadang gerimis. Nama tempat ini Candi Arjuna yang diresmikan oleh Ir. Jero Wacik, Menteri Kebudayaan kita pada tahun 2008. Disini, tempatnya luas, rumputnya itu loh yang menjadi bahan perbincangan Nova karena rumputnya bagus banget. Apa iya kita boleh menginjaknya? Sayang juga rumput sebagus ini jadi bahan foto narsis, apalagi ada syuting video Syahrini ala Arya :

Tapi tidak hanya video terheboh abad ini, ada juga foto-foto lainnya :

20141208_100237 (Large) 20141208_100325 (Large) 20141208_100426 (Large) 20141208_100927 (Large) 20141208_101102 (Large) 20141208_101637 (Large)

Ada juga sekitar 2 pasangan cowo-cewe dan 1 pasangan cowo-cowo serta 1 keluarga disini yang ikutan guling-guling eh ikutan foto-foto, tapi ga ada yang segila saya Jam setengah 11, kami cabut keluar lokasi Candi ini. Kami melihat ada warung nasi yang menjual mie ongklok dalam perjalanan dari Telaga ke Candi ini. Semoga beneran ada dan semoga rasanya memang enak, seenak yang Arif Soekocok katakana di WA. Syukurlah hujan benar-benar berhenti, walaupun awan tidak mengijinkan matahari menghangati kami. Sesampainya di warung nasi itu, kami tersontak kaget. Karena penjualnya ternyata gadis manis….ternyata ada ibunya akhirnya ada juga “pemandangan” di Dieng ini

Mie ongklok ini….rasanya memang seperti mie biasa namun yang membedakan itu bumbunya. Saya kutip dari salah satu website :

 

Yang istimewa dari mie ongklok ini adalah kuahnya, kuah yang terdiri dari campuran air dan tepung tapioca ini disajikan hangat-hangat. Kuahnya kental dan lezat, anehnya ketika sudah dingin kuahnya justru lebih cair. Padahal cairan tepung tapioca sewajarnya akan mengental ketika suhu cairan mulai dingin.

mi-ongklok1

Sumber : http://nana-nanudz.blogspot.com/2014…lon-dieng.html

Harga mie yang enak ini, harganya saya lupa tapi rasanya sekitar Rp. 10.000 belum ama minum teh tawar. Nova sempat ngobrol kalo di Bandung, teh tawar itu gratis, udah termasuk dalam makanan. Kalo di Jawa, malah harus bayar antara Rp 1.000-2.000. Beruntunglah Bandung. Selesai bayar, kami kembali ke Guest House untuk mandi, beres-beres lalu pulang. Sayang sekali, kami ingin menginap 1 hari lagi sebenarnya karena semua lokasi di Dieng mestinya sih bisa dikunjungi sehari penuh, pulangnya tengah malam sekalian. Nanti saja kalo ada rejeki, kesini lagi kapan-kapan.

Jam 12.45 kami berangkat pulang ditemani cuaca yang galau lagi. Jalur pulang kami : Dieng – Kajen – Pekalongan – Pemalang – Tegal – Brebes – Cirebon – Sumedang – Bandung. Artinya kami pulang lewat Pantura, sesuatu yang baru buat saya. 2 tahun yang lalu, saya pernah lewat pantura tapi hanya dari Subang ke Indramayu saja, dimana bagian pantura-nya cuma beberapa kilo. Namun sangat berkesan karena saya harus jalan kencang dengan truk di depan dan samping. Truk berbobot pulhan ton dengan kecepatan setidaknya 80 kpj tentunya menyeramkan.

 20141208_123636 (Large)

Anyway baidewei, perut kenyang membuat kami siap jalan jauh, dan sebisa mungkin makan malam di Cirebon. Berangkat! Otewe Kajen ! Nova yang lagi-lagi menjadi RC. Berbekal GPSnya, kami dengan mulus melaju turun. Goodbye Dieng, thank you for the cold air and memorable spot. Jalan 85% mulus, namun sempit, dan sayang sekali selama jalan turun ini, saya yang tadinya pengen foto dengan background Dieng Plateau harus mengubur dalam-dalam karena tertutup awan tebal. Sesampainya di bawah, kami menemui pertigaan. Kanan maupun kiri sama-sama mengarah ke Kajen, namun belokan ke kiri melewati jalan Paninggaran yang lebih berkelok-kelok daripada jalan kanan. Di googlemaps, jarak keduanya hampir sama sekitar 75 km atau 2 jam perjalanan.

Jalur ini melewati hutan dan sesampainya di suatu spot yang lumayan bagus, kami behenti. Jalan itu bermula dari turunan, belok ke kiri melewati jembatan pendek dengan sawah di kanan kiri. Di jalan pendek setelah jembatan itu kami berhenti, Nova ngecek GPSnya sekalian minum dan saya pengen pipis sekalian. Baru aja turun ke samping jalan (sepertinya tempat pembakaran daun kering) daeng 2 pulsar yang salah satunya saya kenal: Praba Seno ditemani oleh Ari Bajaj. Wekekekek…..tenyata mereka semalam menginap di daerah Wonosobo dan tidak naik ke Dieng karena kemalaman. Memang ketika di Karang Anyar, Praba bilang kalo dia berencana pulang lewat Dieng. Ternyata ketemu disini Ngeliat jam ternyata baru jam 2 siang.

20141208_140659_Richtone(HDR) (Large)

Setelah sama-sama pipis dan ngobrol tentang motor masing-masing, kami lanjut jalan berempat dengan urutan Praba-Ari-Nova-saya. Nah kesenangan bermula disini, dimana kami memasuki daerah hutantapi masih ada perkampungan dengan jalan berbelok-belok namun mulus. Mirip-mirip Cisewu. Saya dan mungkin Nova berjalan tidak secepat Praba jadinya lama-lama kami tertinggal. Baru keluar dari daerah pepohonan masuk kota kecil yang namanya Kajen. Dari sini ke Pantura sekitar 22 km menurut GPS Nova. Sayang lalu lintasnya agak kacau dengan banyaknya rider ugal-ugalan. Beberapa kali saya disalip metik ga jelas yang entah tujuannya mau sama-sama kencang atau mengganggu. Untung udah ganti klakson aftermarket yang suaranya kencang jadi pengacau itu bisa mengerti kalo kami lagi riding berdua & melaju kencang.

Sampailah di lampu lalu lintas, hal yang aneh karena terakhir lihat lampu ginian itu di Surakarta. Nova berkata ketika kami berhenti karena lampu merah “nah ini udah Pantura, dari sini belok ke kiri terus luruuuuss aja sampe Cirebon.” wah udah deket nih, pikirku. Amboy ternyata masih jauh…..xixixi…ngeliat papan nama jarak di jalan : Jakarta 370an km dan bandung sekitar 280an km. Halah 9 jam lagi dong kurang lebih.

Baru jalan sekitar 5 km, saya pencet klakson supaya Nova minggir nyari minimarket soalnya agak laper plus bahu kanan sakit, mungkin karena pegal atau akumulasi kepegalan 3,5 hari turing. Apalagi yang Long Way Round itu ya? Sehari sekitar 280 km (total 20.000 mil lebih ditempuh dalam 115 hari) dan jalannya ½ mulus ½ ga ada jalan, hanya berbekal GPS dan peta. Sekarang sih enak ada hape android/iphone lengkap dengan aplikasi peta, baik bawaan atau 3rd apps missal sygic, garmin, dsb.

Baidewei kami akhirnya berhenti di minimarket dan melepas lelah sejenak, nyatanya kami istirahat sekitar ½ jam. Istirahat kami sempat terganggu dengan kehadian cewe ber-rok mini keluar dari mobil panther, sayang aplikasi kamera malah ngadat -_-

Entah jam berapa, saya lupa, kalo ga salah kami lanjut jalan jam 4an. Setelah bayar parker seikhlasnya, saya jadi RC. Cihuy, mari kita let’s go. Do’a saya agar jangan hujan setidaknya di Pantura. Eh baru aja ngebut sekitar 10 km, hujan turun makin lama makin besar. Harapan saya, makin jauh jalan main ga hujan ternyata salah. Saya ngasih isyarat ke Nova untuk menepi di minimarket dan pake jas hujan. Kemudian jalan lagi.

Cukup lancar perjalanan ini sampe ga kerasa melewati Tegal. Dari pertigaan tadi ke Brebes sekitar 62 km. Dari Tegal sampe ke Cirebon sekitar 67 km, dan saya melihat awan gelap lengkap dengan petirnya sedang menyambar daerah Cirebon. Sebelum sampe di Kota Cirebon, kami melewati 1 proyek perbaikan jalan saja, kemudian jembatan kecil namun berundak-undak. Sat itu saya sadar kalo kedua jalu stang saya hilang. Terbang entah kemana. Saat itu saya melihat spion, Nova ga ada. Saya tunggu sekitar 5 menit ga nongol-nongol. Sempat terpikir jangan-jangan Nova melindas jalu stang saya yang jatuh, tapi kemudian dia dating sambil ½ teriak “bensin habis banget Ya!” wekekek…untung di depan ada pom bensin, hujan agak kecil saat itu.

Setelah kami berdua isi bensin, kami riding lagi, saya ga ingat jam berapa namun masih terang saat itu, mungkin sekitar jam 5. Kemudian menjelang maghrib, saya merasa pundak sebelah kanan sakit bukan main. Saya menepi ke pm bensin dan berkata ke Nova “Nov pundak kanan saya sakit banget, sekalian Shalat Maghrib dan Isya aja ya disini.” ”Oke” kata Nova.

Sambil melepas sepatu, jas hujan, back support, jaket Contin, saya wudhu trus Shalat Maghrib. Habis itu pundak kanan saya olesi dengan Freshcare alias minyak Agnes, xixixi….  soanya bintang iklannya kan Agnes yang sekarang jadi aneh karena berotot. Kemudian Nova shalat. Menunggu waktu Isya, kami ngobrol dan kata Nova, kita makan malam Empal Gentong di Cirebon. “Moga-moga keburu soalnya waktu kemarin pulang dari Malang lewat sini, tempatnya udah tutup. Makanya nanti kamu jalannya agak cepat ya” kata Nova ke saya. “okay saya usahain, moga-moga hujannya mengecil” jawab saya.

Setelah Shalat Isya, kami pakai gear hujan kembali dan hape android saya cas dan masukin ke sidebox kiri. Boros juga hape ini kalo pake kartu Simpati. Dengan hujan gerimis yang masih turun, kami melanjutkan jalan ke Cirebon. Di tengah perjalanan yang ditemani hujan deras, saya sekilas melirik ke kiri jalan tepatnya ke minimarket, nampak ada 2 motor sport dengan 1 orang lagi ngutak-ngatik motornya. Karena hujan deras dan lagi kecepatan tinggi sekitar 170 kpj, saya kira itu orang lain yang bukan rombongan Prides. Sekitar 1 jam kemudian, dengan Nova yang mimpin ketika mau masuk Kota, kami tiba di restoran yang Nova maksud. Alhamdulilah Empal Gentong H. Apud masih buka!

20141208_202818_LLS (Large) 20141208_203737 (Large)

Selama menunggu pesanan 2 Empal Gentong, saya WA dengan istri serta pasang status di FB kalo kami minta ijin melintas Cirebon untuk makan disini. Eh direspon oleh Om Ade Schwarzenegger. Katanya jangan dulu pergi, mau dibekali sesuatu (entah bercanda entah tidak) tapi karena kami ingin buru-buru pulang dan juga tidak mau merepotkan beliau, kami segera pergi dari situ. Untung aja Om Ade pengertian Dan ternyata motor yang tadi saya lihat itu adalah Om Praba dan Om Ari dimana bodikom motor Om Ari trouble. Tadinya mereka istirahat karena kehujanan, begitu motor dinyalain eh motornya Om Ari ga bisa hidup. Alhasil mereka menginap di rumah salah satu CC (saya lupa siapa yang mereka tumpangi).

Syukurlah perut kenyang lagi, jadi tidak khawatir di perjalanan pulang mampir-mampir dulu ke restoran mana. Dari sini ke kami tidak lewat Majalengka, hometown-nya Sidky, mantan wakechap Bandung, namun lurus ke Jatiwangi. Selama perjalanan dari keluar Cirebon sampe sekitar Jatiwangi, jalanan didominasi oleh truk sedang dan minibus. Saya paling susah jalan malam dikasih hujan, karena faktor mata kanan yang silindris dan kedua mata yang minus. Ditambah salah satu minibus memasang lampu ala DRL berwarna biru seperti mobil patrol polisi, membuat saya susah konsentrasi ke jalan.

Untunglah sampe Sumedang, hujan udah berhenti tapi becek dimana-mana. Pantat, kaki dan bahu kanan udah pegal sekali. Berkali-kali kedua kaki menumpang di EG. Lewat Sumedang, Nova berhenti di pom bensin untuk istirahat. Wah padahal istirahatnya di Sumedangnya aja, kata saya. Kita bisa minum susu murni atau ngopi-ngopi, syukur-syukur digodain wanita malam (wanita beneran tentunya )

Setengah jam lebih kemudian, kami jalan lagi, setelah mengelap kaca helm dan saya pake sarung tangan (selama perjalanan dari pom bensin sebelum Cirebon tadi saya ga pake sarung tangan, agar bisa mengelap kaca helm yang basah).

Sumedang-Ujungberung merupakan rute paling menjemukan. Walau udah jam setengah 1 tapi masih banyak truk di jalan. Sampai di perempatan Cikutra, Nova pamit belok ke kanan, saya lurus ke Dago. Sesampainya di Dago, saya narsis dulu di Cikapayang

20141209_010546 (Large)

Alhamdulilah jam 1.15 nyampe rumah dengan selamat, dengan istri tercinta yang membukakan pintu rumah

More photos : http://s1329.photobucket.com/user/di…?sort=3&page=1

Total perjalanan pulang : 360 km selama 12 jam 30 menit.
Total perjalanan 4 hari : 770 km + 360 km = 1130 km.

Hari ke-4 : TAMAT

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Hari Ke-3 : MINGGU, dan bangunnya jam 7

Pas bangun, saya kaget karena shalat Subuhnya kebablasan. Saya pergi ke kamar mandi untuk poop, pas keluar Mas Bayu bangun dan dia juga sama-sama ga shalat Subuh, wkwkwk….lanjutin tidur-tiduran, ngecas hape sambil cek WA, ngabarin istri, dan mata malah ga bisa tidur lagi walopun badan agak lemes. Tapi Mejik ngeWA kalo di aula ada sarapan, siiiiplah….tapi nanti aja deh sarapannya, mau beres2 barang dulu sebentar. Terutama jas hujan, masker dan sarung tangan dijemur-jemurin. Jam 8an saya ke aula untuk sarapan nasi. Rupanya masih sepi, pas saya lagi duduk sama Mejik dan Denny, Om Dono, Salum dan rombongan ikutan duduk di meja kami. Ooooh…ini toh yang namanya Salum Mbelghedez….xixixi…baru ketemu sekarang ini. Badannya gede, kulit putih, rajin turing serta tidak sombong. Setelah ngobrol-ngobrol ga jelas, saya ama anak-anak CB rundingan mau kemana aja. Hampir semua mau pulang, kecuali saya, Nova dan Agus. Oya Fathier udah dianterin Kang Oma ke stasiun di Solo subuh tadi dan Kang Oma lanjut pulang pake motornya Fathier. Katanya sih Fathier mau ada tes kesehatan untuk masuk kerja hari selasa. Padahal balik sekarang pake motorpun masih keburu kok. Habis rundingan itu, saya balik ke kamar untuk ngasitau Mas Bayu kalo di aula ada sarapan nasi. Lumayaaaaann….

Saya ambil hape dan jalan ke gerbang depan, pengennya foto dengan background Banner Jamnas 6, eh eh ternyata ada bule singapura yang berangkat dari Jakarta bareng ama Dono Andomo, dialah El-Buset. Dua tahun lalu waktu dia ke Bandung, saya ikut menjamu dia yang main ke Bandung dan ikut jalan-jalan malam harinya dengan tikum di rumah Mang Bohay. Anyway, di depan gerbang masuk Jamnas, kami ngobrol-ngobrol dan saya minta dia untuk fotoin saya, hehehe….kapan lagi minta fotoin ama bule :p :p

20141207_080420 (Large)

Setelah difotoin, Om Vincen datang ke parkiran dengan badan segar habis mandi dan menenteng tankbag contin serta helmnya. Nampaknya ada yang mau pulang duluan nih! Segera saya pindahin motor ke depan kamar E, saya masuk ke kamar dan mandi. Mas Bayu sendiri lagi asik mainin hapenya. Kelar mandi, Mas Bayu ngungsi ke parkiran motor untuk liat-liat temen-temen yang berangkat pulang ataupun main ke Tawangmangu (katanya Cuma setengah jam main kesana dari lokasi ini loh). Saya sendiri tadinya pengen main kesana, namun karena perjalanan masih jauh, saya urungkan niat dan lebih memilih main ama Nova ke Dieng via Banjarnegara.
Rebes-rebes box dan ngejemur pakaian, saya buka sidebox kanan dan oalaahhhh….OLI FATHIER TUMPAH (OMFG) untung tumpahnya sedikit, kena toolkit saja. FYI, sidebox kiri isinya tas kecil yang isinya macam-macam alat listrik semisal powerbank, kamera,dsb. Sidebox kanan isinya oli Fathier, sendal, toolkit, dan air minum. Jas hujan diikat di jok belakang. Topbox isinya pakaian dan sejadah. Untuuuunnggg kaga saya simpen olinya di topbox. Alhasil butuh waktu setengah jam untuk ngebersihin, ngelap dan ngejemur sidebox itu. Nova ngeWA kalo kita harus berangkat sekarang kalo ga mau kemalaman nyampe Diengnya. Saya bales “Nov, olinya Fathier tumpah euy di sidebox. Tungguinlah ya sebentar” dan Nova datang ke tempat saya parkirin motor. Selama saya beres-beres, Mas Bejo dan Mas Lingga bolak-balik antara kamarnya dan parkiran. Tampaknya mereka mewakili temen-temen yang pusing beres-beres, apakah mau pulang atau main kemana dulu.

Alhamdulilah beres, Agus datang dan bilangnya “yang jelas saya ga akan ikut ke Dieng, mau main dulu. Nantilah saya kabar-kabarin main kemana aja” dan pamit duluan. Kemudian saya masuk ke aula dan pamitan ama yang ada didalam. Nampak Om Dono lagi dipijat punggungnya pake kursi pemijat. Oiya, beberapa CJ pulangnya pake pesawat dan motornya dipaketin pake truk. Om Dono, Rangs, Mbon dan siapa lagi saya ga ingat. Enaknya…..kalo ada duit sih saya pengen turing sampe ke Lombok, lalu pulang pake pesawat dan motor paketin pake pesawat juga

BERES, mari kita berangkat, Nova! Saya tadinya pengen foto dulu di depan banner Jamnas 6, tapi lagi ada yang narsis dengan motor yang dicat merah-emas kaya warna IronMan. Nungguin lama……ah bullshit nih nungguin ga jelas gini. Kami pamitan ke Om Ade Cahya dan kawan-kawan yang lagi siap-siap juga, lalu ngeeeeeeeeeeeeeeng….bye-bye Karang Anyar, thank you for the Jamnas. Tujuan kami : PASAR KLEWER SOLO. Nova mau beli sesuatu untuk yayangnya..ecieeeee…..suitsuiiwww….

Oh iya kemarin sore ketika rombongan CB naik ke lokasi Jamnas, ada bus umum yang bosan mengaspal dan memilih untuk keluar jalan raya. Dan pagi ini, bus itu masih ngejogrok disitu
20141207_093739 (Large)

Cuma sejam, kami nyampe di tujuan Nova, tidak lain Pasar Klewer. Tapi saya mau COD dulu dengan temen Punisher (Pulsar 200NS on KASKUS) di pintu masuk Pasar, yakni Engine Guard 200NS yang milik Agus Dubai ke Bro Handareka. Ga perlu lama-lama, kami masuk ke parkiran Pasar. ANJRIT PANASNYA….sampe di dalempun masih kerasa panasnya, saya sampe pusing jalan kaki, sementara Nova asyiknya milih-milih baju daster. Saya ikut beli juga karena tergiur, untuk istri dan mamah. Setelah keluar dari dalam pasar, kami jalan-jalan lalu minum dulu Es Degan di depan mesjid agung Solo, romantisnya, xixixi…. serangan panas tadi lumayan berkurang dengan makan es ini. 15 menitan kami nyeruput es, lalu lanjut ke parkiran. Eh sebelah motor kami ada motornya Mas Reza Galau ama istrinya, ga tau kemana. Nampaknya lagi ke dalam Pasar Klewer. Aya ambil 1 foto motornya Reza dan pake jaket, lalu dateng rombongan Pulsar lainnya yang dikomandoi Njup, sambil tunjuk-tunjuk ke kita berdua! Kayanya mereka mau ke Pasar juga, namun sayang parkiran penuh sehingga mereka parkir di tempat lain yang agak jauh. Nova ngajak jalan lagi karena tujuan masih jauh. Saya melihat ke atas, awan di arah tujuan kami menghitam. Semoga tidak hujan!

Kami jalan meninggalkan Pasar dan semrawutnya jalanan Surakarta, sambil ditemani ER6N lokal yang searah dengan kami. Pas masuk ke jalan utama yang mengarah ke Boyolali, hujan turun. Makin lama makin besar, terpaksa deh menepi dan pake jas hujan. Saya sempet ditanya ama Bapak-bapak yang pake jas hujan juga “dari Bandung ya Mas?” “iya pak, tapi mau ke Dieng dulu baru ke Bandung” jawab saya.

“kalo gitu saya duluan ya Mas” katanya sambil berlalu dengan motornya. Baru kami lanjut jalan dengan jas hujan terpakai dan saya sempat ngabarin istri (maklum, newlyweds alias baru menikah jadi ska lupa harus ngabarin ). Di perjalanan, kami melaju bersamaan dengan rombongan Mercedes Benz plat B yang dikawal polisi. Ngapain juga turing dikawal-kawal, emangnya lagi turing di Suriah? Di Israel? Aneh-aneh aja.

Hujan besar yang menimpa kami berlangsung lama sampai ke daerah Samiran dimana kamimakan siang disitu sekaligus melepas lelah dan pegal. Kami makan siang ga jelas disini, karena lauknya udah pada dingin kecuali nasinya. Saya liat jam, menunjukkan pukul setengah 2, hujan rintik-rintik. Sekalain kami shalat Dhuhur dijama Ashar di masjid sebrang wartegnya. Jam setengah 3 kurang, kami lanjut jalan. Antisipasi cuaca, kami tetep pake jas hujan. Ga lama riding, kami bisa melihat dua gunung kembar : kanan Gunung Merbabu dan kiri Gunung Merapi. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter dpl, sementara gunung Merapi 2.968 meter dpl. Jalan aspal mulus sempit berkelok-kelok dengan pemandangan kedua gunung, sungguh mempesona. Dari Boyolali belum terlalu kelihatan soalnya ketutup oleh awan hujan. Setelah kehujanan kira-kira sejam, kami bisa melihat indahnya kedua gunung itu. Hujan berhenti, jalan mulus berkelok-kelok, dengan pemandangan gunung yang angkuh namun kokoh. Puncak Gunung Merapi agak tertutup awan, sementara Merbabu jelas. Mendengar namanya saja, Merapi, membuat saya terbayang-bayang seandainya gunung ini meletus dan mengeluarkan laharnya, saya akan berhenti, menelpon istri saya bahwa saya mencintainya. Lalu menelpon ayah dan ibu saya, mengatakan betapa saya mencintai kalian berdua dan terima kasih sudah melahirkan saya ke dunia ini. Ah tapi itu hanya lamunan, moga-moga ga meletus gunungnya

Saya pengen sekali menepi dan ambil foto di beberapa belokan jalan, karena spotnya sungguh indah. Tapi Nova melaju kencang, seolah tidak peduli dengan jeritan hati saya ini. Saya salah, karena Nova berhenti di Ketep Pass….indahnya!! cekidot foto-fotonya :

20141207_151123 (Large)20141207_151208 (Large)20141207_151800 (Large)

Lokasi Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan dan diresmikan oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri ini banyak sekali wisatawan, masuk ke dalamnya mesti bayar entah berapa. Kata Nova, di dalam ada teropong yang langsung mengarah ke puncak Merapi. Waktu erupsi tahun 2006, lava-nya terlihat jelas via teropong. Tapi kami berdua hanya diam diluar, menikmati pemandangan sambil bernarsis ria. Merasa cukup dan tanpa dikomandoi, kami siap-siap lagi dan lanjut jalan. Jam menunjukkan pukul setengah 4. Alamat nyampe Dieng gelap dan berkabut ini dong !

Goodbye Ketep Pass, kami bertolak menuju Dieng. Kali ini kami mengarah dulu ke Secang lalu Temanggung. Dari Ketep ke Secang, jalannya enak dilalui. Secang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berada di bagian utara Kabupaten Magelang, dan dilewati jalur utama Semarang-Yogyakarta dan Semarang-Temanggung-Purwokerto. Ga ada yang istimewa di jalan ini, cuaca sudah cerah sejak diatas tadi, dan kami melipat jas hujan walopun sudah sore. Makanan khas Secang tidak lain Bebek Goreng, tapi saying kami diburu waktu sehingga tidak sempat menikmatinya. Lalu kami masuk Temanggung, kota kecil namun terkenal oleh buah lengkengnya, yang berbuah di bulan Januari-Februari. Bulan Desember ini belum ada, tentunya.

Lewat Temanggung, kami masuk ke Kota Purakan dan menurut GPS Nova, kami belok kanan ke arah Tambi, melalui kabut Gunung Sindoro, 3.150 dpl. Kalau kami menuju Wonosobo, kami bisa melihat gunung kembar kedua yakni Gunung Sindoro di kanan dan Gunung Sumbing (3.371 dpl) di kiri. GPS Nova mengatakan bahwa jalur via gunung Sindoro adalah jalur tercepat, ya udah saya ikuti wong dia ini RC-nya

Begitu memasuki daerah gunung yang terus menerus naik, kabut turun dan matahari sudah pergi menerangi belahan bumi yang lain. Nova tidak yakin dengan rute ini, namun GPnya sih ga salah. Saya sendiri yakin karena hafal dengan suasana jalan ini. Dua tahun lalu, saya dengan Agus menginap di Dieng via Banjarnegara, juga tidak melalui Wonosobo. Suasana jalannya yang bergelombang, kabut, gelap dan udara dingin sanget menyiksa, apabila jalan sendirian. Alhamdulilah tidak ada apa-apa, walaupun kedua rute ini membuat saya agak bergidik karena ada suasana mistisnya. Serasa ada yang memperhatikan kami di kegelapan kanan dan kiri jalan. Tentu saja kami tidak bisa melihat kemana-mana, tertutup kabut dan tiada penerangan kecuali lampu motor kami. Baru ¼ jalan, Nova berhenti dan mengecek GPSnya. “benar kok jalannya, tapi kok saya ragu ya?” Tanya Nova ke saya. Saya menepi dan standar samping si NS, merenggangkan kaki. Lalu berkata,”ayo jalan aja Nov, saya yakin kok. Kalo kata GPS bener, hayu ah” jam menunjukkan 7 lebih. Alesan saya minta jalan lagi ya karena suasananya ga enak (walopun di siang hari, kanan kiri kami hanyalah hamparan kebun teh). Karena kawasan ini suhu udara cukup dingin, sejak zaman penjajahan Belanda telah berdiri pabrik Teh Tambi. Mungkinkah ada kejadian menyeramkan dahulu kala?? Entahlah….

Saya jadi RC untuk sisa perjalanan ini. “udah deket kok di peta, sekitar 10km an” kata Nova. Sumpah, jalan menyeramkan ini lagi-lagi harus saya lewati. Jarak pandang Cuma 1-2 meter, lampu apapun yang kami miliki tidak bisa menembus kabut tebal. Tapi entah kenapa, saya suka situasi ini. Kapan lagi jalan malam dengan sahabat, menembus kabut tebal? Mirip game Silent Hill.

Memang jalur ini kami lalui tidak lama, setelah melalui perkampungan, kami sampai di pertigaan. Nova bilang kalo uang di dompetnya tinggal Rp. 50.000 sementara saya sekitar Rp. 25.000. Saya tidak hafal kalau di daerah Dieng (belok ke kanan) ada bank dan atm, maka saya belok ke kiri ke arah Wonosobo untuk nyari atm dan mungkin nyari mie ongklok, khas Wonosobo. Sekitar 3 km kemudian, kami menemukan BRI lengkap dengan atmnya. Sayang ga ada yang jual mie ongklok, jadi setelah ngambil duit, kami puter balik ke arah Dieng. Eh ternyata dari pertigaan Tambi tadi itu ada juga BRI 😯

Jalannya sungguh enak, namun pikiran itu seketika lenyap karena di depan ada longsoran! Untung banyak warga yang sedang menyingkirkan tanah dan jalan bisa dilalui walau hanya 1 arah saja. Thank You Guys.

Mendekati jam 19.30, kami sampai di pertigaan Dieng-Cikunir, finally ! Saya hanya mengenal 1 homestay yakni Dieng Plateau Homestay, yang terletak persis di pertigaan itu, sebelah kanan kalo dari arah Wonosobo. Kami parker di teras, saya masuk ke lobby dan ngobrol dengan yang jaga. Tarifnya Rp. 100.000 untuk kamar biasa non TV dan KM luar, Rp. 200.000 untuk KM dalam dan ada TV. Kami ambil yang Rp. 100.000 dan langsung masukin motor ke dalam rumah. Punggung pengen banget rebahan, walopun harus beres-beres motor dulu. Eh Nova ngajak nyari makan, dan baru nyadar kalo perut saya lapar juga.

Setelah beres-beres, kami jalan-jalan ke Masjid Agung Dieng tapi kurang pencahayaannya untuk narsis ria 😀 Makin jauh jalan ke arah Cikunir, kayanya ga ada warung makan yang buka. Puter balik karena saya tau ada warung makan yang ke jalan arah Candi, Nova malah minta saya fotoin dia di plang nama jalan -_- Setelah nemuin warung makan yang buka, kami pesan soto ayam jamur. Nyam nyam…uenaakkk…sayang si ibu ga jual mie ongklok. Duh, akankah kami bisa makan mie ongklok? Masa besok harus turun ke Wonosobo?? Lagi makan1/2 jalan, datang 4 turis lokal lainnya yang ikut makan. Di etalase, kami melihat ada manisan Carica dan tentu saja, Purwaceng. Too late for Purwaceng coffee, besok ajalah.

Balik ke kamar, beres-beres box lagi, ganti baju, sikat gigi dan tidur. Pas di atas kasur, Nova cerita kalo dia pengen ke Cikunir untuk melihat sunrise yang melegenda itu. Dan bermaksud bangunin saya jam 3-4an. Untung saja jam 3 itu, ketika dia bangun, turun hujan gerimis sehingga menatap sunrise di Cikunir harus batal. Lagian walopun kita kesana maksain, awan hujannya menghalangi matahari. Oya sebelum tidur, saya memakai celana training, kaos kaki, kaos, jaket tebal, neck warmer, kupluk dan sarung tangan plus selimut dari kamar. Hehehe…..sementara teman tidur saya cukup pede ga pake kaos kaki dan pake sleeping bag, setelah bilang kalo slimutnya buat saya aja. Saya heran kok barang bawaan dia cukup banyak tapi muat di 2 sideboxnya, sementara saya harus 3 box baru muat. Belum pas pulang, tankbag diikat di jok belakang untuk memberi space oleh-oleh di box belakang.

Hari Ke-3 : Tamat

Hari ke-2 : SABTU

Mata masih ngantuk, kepala agak pusing, pundak dan leher kanan agak pegal, tapi suara dikamar saya membuat terbangun. Saya jadi teringat ketika dulu acara Turing Bapukers ke Ujung Genteng berakhir pahit : saya dan 2 teman kehilangan hape dan uang. Mata langsung saya paksakan buka kalo2 maling yang masuk. Ternyata Fathier bangun dan lagi beres2 barangnya, sholat Subuh, lalu mandiin motornya   ga bisa agak siangan apa, Bos? Tapi ada untungnya, saya jadi kebangun untuk sholat Subuh, lalu tidur lagi….ngeliat jam di hape jam 5. Berarti teman sekamarku ini mandiin motornya jam 4 subuh….hadeuhhh….

Posisi tidur saya sebelah tembok, asik banget buat senderan kaki  jadinya pulas banget tidurnya tahap ke-2 ini. Jam 7an kebangun lagi, karena pengen poop, dan….lanjut cuci motor deh karena ngeliat keluar, Nova lagi nyuciin motornya juga. Mampir ke kamar sebelah, mendapati Agus masih meringkuk di kasur. Nampaknya lelah bertempur dengan Nova semalam :ngakak

20141206_094739_Richtone(HDR) (Large)

Agak siangan, kami bertiga udah bangun, motor bersih, dan Cuma Agus yang pulsarnya dekil. “ga usah dicuci, nanti juga kotor lagi” katanya. Selesai beres2 dan narsis ria, kami lanjut jalan dan Fathier minta nitip oli cadangan ke saya. Saya simpan oli cadangan shell yang terbungkus plastik tersebut di sidebox. Paginya panas sehingga semua pakaian kami yang basah pada kering, namun ketika jalan, awan gelap lagi. Keluar dari daerah penginapan, kami mampir lagi di minimart, beli cemilan cepuluh, lanjut jalan menuju Wonogiri via Gunung Kidul. Jalan aspal di daerah GunKid ini sangat mulus, pemandangan indah, dan lalu lintas tidak begitu ramai. Ditambah cuaca yang bersahabat, ini benar-benar perjalanan yang sempurna. Kecuali pundak kanan yang mulai sakit. Dulu ketika saya masih pake Scorpio Z, saya pernah melakukan solo turing dari Wonosari ke Ponorogo via Waduk ini, dan rutenya kali ini sama. Bedanya, waktu itu jalan-jalan saya lakukan di musim kemarau.

Sampai di daerah Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, perut saya udah keroncongan. Sebelum masuk ke daerah Waduk, Agus ngasih tanda kalo dia pengen makan. Saya susul Nova yang jadi RC, dan kami makan di restoran sebelum jembatan ke-3. Sepanjang perjalanan tadi pagi sampe kesini, kami selalu berpapasan dengan rombongan Vespa. Di tempat makan ini, kami ngobrol dengan tamu yang baru makan, dan kendaraan mereka Vespa juga. Katanya mau ada semacam Jambore se-Asia Tenggara diadakan di Salatiga (sori kalo salah). Oh pantesan kalo dihitung-hitung, mungkin kami bertemu setidaknya 50an motor itu, baik yang Piaggio terbaru maupun Vespa tidak berbentuk 

Selesai makan siang yang bertarif Rp. 120.000 berempat, kami jalan lagi, kali ini lurus ke Karang Anyar! Ga masuk kota Surakarta-nya, menghindari macet dan ngapain juga lewat situ. Efek perut kenyang membuat trip terakhir ini makin berat. P200-nya Fathier kehausan, dan harus minum pertamax. Kami nyari-nyari pom yang jualan pertamax dan Alhamdulilah nemu, walopun di plang-nya ga ada harga pertamax. Nampaknya plang harganya belum mereka pasang.

Sesudah kami berdua ngisi pertamax, kami berempat lanjut jalan. Setibanya di perempatan yang ada pom bensinnya, kami shalat Ashar dijama Dhuhur. Kalo dari arah kami datang, ke kiri itu dari Solo dan biker pada pake jas hujan. Pun dari arah Utara. Ke arah Jamnasnya ga ada yang pake…semoga cerah! Walopun kata Mejik di WA bilangnya sih disana hujan.

IMG_20141206_150813 (Large)

Sekitar jam 4 kami otewe lagi, tanpa menggunakan raincoat. Setelah sukses nyasar 2x sambil Nova nyari-nyari atm, akhirnya menemukan jalan yang benar ke arah Jamnas, dan hujan mulai turun. Lama-lama membesar…..lama-lama membuat Nova parkir dan nyuruh kita pada pake jas ujan. Baru selesai pake, datang Aiska! Surprise banget! Dia bilang jalan dari Jakarta sekitar jam 2 subuh. Nyampe sini ga ada nyasar-nyasarnya. Dia datang tanpa boncenger, kasian kejauhan katanya. Oke kami lanjut jalan lagi…dan hujan mulai membesar. Saking besarnya, jarak pandang mungkin hanya 5 meteran. Nova sempat berhenti dan puer balik ke ATM, yang lain parkir kehujanan. Eh ga taunya ada mobil Toyota Fortuner abu-abu datang menepi….ternyata itu Kang oma dan Kang Syarif Kutu yang kloter kereta. Mobilnya Kang Kutu parkirin di Solo. Hujan tetep besar, karenanya, laju motor pelan-pelan saja. Ada kejadian dimana saya dan hampir tertabrak rombongan Mercedes Benz yang datang dari arah Karang Anyar menuju Solo, dimana patwalnya menyusul kendaraan di depan mereka dan jalur yang mereka ambil 90% menutupi jalan kami, dengan kecepatan sangat tinggi. Saya sendiri yakin, sidebox saya pasti kena tabrak. Alhamdulilah tidak….F*CK bangetlah rombongan Mercy itu (saya hafal grill-nya, ga jauh dari tipe SLS yang 2 pintu itu). Dapet info belakangan kalo Mercedes lagi ngadain semacam jambore di Solo.

Sekitar 20 menit kemudian, kami sampai di lokasi Jamnas, finally!

Setelah parkir di sudut, saya melihat beberapa wajah familiar namun tidak hafal namanya  dan saya berjalan ke pos registrasi. Sempat hectic disini karena mungkin ada 20an orang mau registrasi di tenda kecil, panitianya agak kewalahan, informasi peta simpang siur. Saya menunggu 10 menitan, dan ngeliat wajah temen-temen yang kecapean, saya minta liat peta dan info dimana kamar kami. Baru saya nyuruh ngasih info lokasi kamar masing-masing, istirahat dulu, biar saya yang registrasi yang lain alias kolektif. Gitu aja kok repot…  Saya nganterin temen-temen ke kamarnya masing-masing, dan lewat halaman tengah lagi ada grup band nyanyi dengan pakaian adat jawa (entah dari daerah mana) dan nyanyinya pun bahasa jawa. Depannya tenda yang nampak jadi tempat lapak. Sebelahnya lapak Contin. Sayang hujan besar jadinya hanya lapak Contin yang bertahan jualan.

Saya dapat kamar E, di bangunan deket ama aula, setelah pusing nyari-nyari ada dimanakah gerangan dikau. Paling ngenes itu Mejik, Agus dan Nova karena dapetin kedua barak, dengan 1 baraknya ada 20an orang. Dan pasti keganggu tidurnya ama yang ngorok (terbukti bener ) mungkin karena mereka daftarnya di saat terakhir sehingga tempat tidurnya “pembuangan” benarkah? Wallahu a’lam J Seharusnya sih saya diberitahu oleh panitia Jamnas, kalo yang daftarnya lewat tanggal sekian atau lewat sekian ratus orang, maka diberi tempat di Barak.

Anyway saya yang di kamar E (Alhamdulilah diberi kamar ini, mungkin ini privilege daftar awal-awal) : ada 2 kasur yang kecil dan yang besar, double spring bed, kamar mandi, 2 kursi, 2 meja, dan 1 lemari kecil. Tidak lupa ada salib di tembok dan alkitab di lemari. Ketika saya mau shalat Magrib, salibnya saya turunin dan masukin ke lemari. Saya sekamar dengan Hawkeye CJ (lupa namanya) dan Mas Bayu Bimantara (lupa ID-nya). Saya ninggalin nama dan nomer hape kalo-kalo mereka datang malem dan nyari yang bawa kunci. Untungnya ketika mereka datang pada saat pemutaran video, tidak sms ke saya jadinya saya bisa konsentrasi bercengkrama ama temen-temen di tempat makan dan aula atas.

Setelah beres-beres, mandi dan shalat Maghrib, dapet WA dari Mejik kalo di aula ada makan-makan…yeeaayy…udah laper nih perut. Jalan kaki ke aula ga jauh, Cuma 10 langkah udah ke dalem. Dan inilah suasana yang saya kangenin : ngumpul makan-makan sambil ngobrol-ngobrol dengan puluhan bahkan ratusan temen-temen Prides yang setahun ini hanya bisa ketemu di dunia maya. Tapi….saya hanya mengenal puluhan saja dari mereka 

Setelah makan, jam 7an saya ngajak temen-temen CB, siapa aja yang mau shalat, bisa di kamar saya karena cukup luas. Cuma Agus aja yang ngikut, Nova ga ikut soalnya ga ada sarung. Agus ngiri dengan kamar saya, apalagi kondisi kasurnya membuai matanya untuk tiduran….xixixi  kata saya sih silahkan aja tidur disini, kalo 2 penghuninya ga dateng. Ternyata dateng keduanya malem-malem, tapi om Hawkeye malah ngungsi ke kamar C (kalo ga salah) ama temen-temennya. Jadilah sekamar itu saya dan Mas Bayu tidur semalam berdua.  Agus ga enak ama Mas Bayu jadinya dia rela di barak, padahal Mas Bayu udah memaksa threesome nanti malam 

Anyway setelah shalat Isya, kami berdua balik ke aula untuk makan dessert berupa bubur apa itu namanya dan kue apa itu ya namanya lupa…. Setelah asik lagi bercengkrama dengan Priderian lainnya, anak-anak CB membahas rute pulang besok pada mau kemana. Saya dengan Nova udah deal mau kencan ke Dieng, sementara Agus bimbang kemana (saya yakin saat itu dia akan main ke timur hingga saat RR ini diketik ½ jalan, Agus belum pulang), Fathir pulang naik kereta dan sukses meminta Kang Oma untuk pake motornya dia ke Bandung, Kang Kutu masih stay sebentar di Oslo, Mejik mau ke Jogja beli oleh-oleh dulu, Denny-Om Ncen pulang ke Bandung via jalur selatan biasa. Barulah kami semua disuruh panitia untuk naik ke lantai 2, pasti pemutaran video dan bagi-bagi hadiah. Semoga saya dapat Suave Contin atau Action Camera !!!!

20141206_195745 (Large) 20141206_195826 (Large) 20141206_200152 (Large) 20141206_200639 (Large) 20141206_204825 (Large) 20141206_230925 (Large)

Ga apa-apalah ga dapet, toh anak-anak Bandung udah memborong hadiah. Bermula dari pembukaan Jamnas oleh Mbon, kemudian MC membuka acara, sambutan dari Om Ito dan Om Vincen, giliran narasumber yang membuat konversi bahan bakar ke Gas (BBG) untuk ngobrol-ngobrol ke depan yang di MCkan oleh Denny (sokoorrrr ), kemudian bagi-bagi hadiah satu demi satu (doorprizenya buanyak banget, yaitu kaos dari Toilet Distro), hingga yang lagi tidur pun mendapat hadiah. Hadiahnya banyak euy, paling banyak kaos distro tadi dan tankbang donimoto.

Puncaknya, pembagian hadiah utama diantaranya jaket contin suave dan kamera SJ3000 ( cmiiw ). Gila dah kalo saya ga dapet hadiah utama ini. Dan….saya ga dapet…  Acara yang ditunggu-tunggu setiap tahun akhirnya tiba, yakni Pemutaran Video!! Yah ga semua Chapter bikin video, diantaranya Jakarta. Semawis membuat Video Testimoni untuk Om Massa dan Om Askhar yang beberapa minggu sebelumnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan salah satu kakinya diamputasi (Yang tabah Om Massa dan Om Askhar, yakinlah rencana Allah selalu lebih indah dari bayangan kita saat ini!)

Oya, video chapter lainpun menampilkan video-video yang luar biasa, hanya maaf, video Chapter Bandung harus menyabet penghargaan sebagai video terbaik Jamnas 6  dan hadiahnya Tankbag Donimoto (terima kasih Om Doni Vingky). Nova menolak diberi hadiah ini karena bagaimanapun, sebagian besar kontribusinya ya dia (walopun saya dorong-dorong terus untuk segera syuting, anak-anakpun saya dorong untuk ikut ambil bagian di peran dalam video) Alhamdulilah materi video kebanyakan diambil dari suasana kemping CB di Ranca Upas Ciwidey dan nuansa Kota Bandung yang berantakan oleh taman-taman. Alhamdulilah kepada para juri yang tidak lain para peserta Jamnas, untuk memilih video Bandung menjadi juaranya!

Setelah acara puncak dan ritual pemutaran video, acara Jamnas ditutup oleh MC sekitar jam setengah 12. Dan kamipun bubar menuju lantai 1. Karena hujan sudah selesai sekitar jam 10, hamper semua orang berkumpul di luar aula yang siangnya itu jadi tempat nyanyi dan lapak jualan. Sebagian lagi pergi ke kamar masing-masing untuk melepas lelah. Saya ke kamar juga ah, ga kuat pengen tidur. Sempat ngobrol sebentar dengan Om Mudjib dan Om Bayu, saya menuju kamar E. Kalo pergi ke kamar E, saya ambil jalan tengah melewati kamar C dan D. eh ga taunya saya disapa om Hawkeye, kalo dia ngungsi ke kamar C (apa D ya?) biar tidurnya barengan ama temen-temennya. Om Bayu sempet beres2 sebentar lalu dia pergi lagi ke area kebun, katanya sih mau temu kangen ama temen-temen disana, dan memang disitu saya lihat sekilas, suhu-suhu Prides pada ngobrol. Saya memilih tidur, soalnya besok perjalanan panjang. Bantal empuk, selimut tipis, pake jaket tebal, matikan AC,sikat gigi, lalu…. Zzzz……

Lagi enak-enak tidur, sekitar jam setengah 3 Om Bayu masuk kamar dan ngajak saya ngobrol….sampe jam 3. Ya ampun Mas…eike nguantuuukkk

Hari Ke-2 : Tamat

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Well, mungkin RR ini lebih spesifik ke perjalanan saya menuju jamnas 6 dan mindik-mindiknya 😀

Sebelum Hari H

Pada Jamnas 5 tahun 2013 yang diadakan di Jatiluhur, saya melihat bahwa pendaftar pertama Jamnas mendapat hadiah doorprize, maka karena itulah ketika pembayaran Jamnas 6 dibuka, saya langsung segera membayar. Ternyata nomor rekening BCA yang tercantum di POL itu salah, saya mengingatkan ke Mas Damar dan akhirnya diperbaiki. Dan Mas Damar memberitahu bahwa saya adalah pendaftar pertama, wah kebayang nih setidaknya saya udah mengantongi 1 hadiah. Ternyata di Jamnas 6? Hmm….tidak dapat 😦

Pada kopdar tanggal 2 desember, anak2 CB membahas beberapa rute dan tikum menuju ke Jamnas. Saya tadinya pengen ke parangtritis via daendels. Nova dan Agus masih belum tau lewat mana yang jelas males melewati jalur selatan biasa. Fathir berhasil membujuk saya untuk pergi ke Dieng lewat Wonosobo. Denny, Om Ncen, Wanwan, Mejik dan ada om Rangs yang lewat selatan biasa. Denny juga bilang kalo Rangs lagi ada di bandung dan mau ikut rombongan CB. Terakhir, kloter kereta diikuti oleh Kang Oma (Yogi) dan Kang Kutu (Syarif) berangkatnya sabtu pagi. Tikum disepakati di Ampera Cileunyi selewat Kahatex jam 4 dinihari, jam setengah 5nya berangkat. Deal deh biar cepet 😀

Gak lupa, kamis sore saya ngisi si NS dengan Pertamax Plus di pom bensin Dago, sampe full Cuma 25ribu

20141204_165032 (Large)

Hari ke-1 : JUMAT

Seperti biasanya kalo mau jalan jauh, saya kena sindrom susah tidur  jam 1 kebangun sampe jam 3….istri ikut bangun dan bantu siap2in sarapan (makasih yayang) ternyata prepare barang2nya lama walopun semalam udah packing2. Ga kerasa pas mau brangkat, adhan Subuh berkumandang. Tadinya mau shalat di tempat tikum, akhirnya di rumah aja, ngirim WA ke anak2 supaya duluan aja dan nanti saya susul (entah dimana). Tidak lupa saya meneguk minuman energy untuk membantu menguatkan badan selama perjalanan. Jam 4.15 saya otewe meninggalkan istri sambil ditemani hujan gerimis. Alhamdulilah lancar sampe agak macet di pasar (alun2) ujungberung. Sampe di kahatex ketemu Mejik (God’s Magic) yang lagi buka2 hapenya. Kami berdua jalan sedikit dan berhenti di tempat tikum. Ga ada siapa2! Fathir ngesms bahwa mereka (dia, Denny, Wanwan dan Rangs) udah jalan dan berhenti di pom bensin yg ada pemandian air panasnya itu (sebelum Ciamis). Gak lama, Nova datang. Agus ngesms duluan aja, dia jalan kalo matahari udah terbit karena mata kanannya lagi sakit. Om Ncen nungguin gerimis di Cimahi agak mereda. Tepat jam 5.15, kami jalan bertiga.

Bismillahirohmannirohim…..

Saya – Mejik – Nova memulai perjalanan ini dengan melewati Rancaekek, dengan matahari yang mulai bangun menyinari Bandung Timur. Perjalanan kami lancar dimana bus, truk dan mobil pribadi tidak terlalu banyak di jalan. Ga pake lama, kami berhasil sampai di pom bensin yang Denny maksud. Ya lama juga sih sekitar 1 jam nyampe kesananya. Saya rebahan sebentar karena memang kurang tidur, dan efek dari minuman tadi subuh belum keluar. Baru juga mau merem, datang temen dari Punisher (Pulsar 200NS Kaskus Is Here) yang namanya Rahmat Gunawan dipanggilnya Gun-gun. Dia ceritanya mau ke Malang dan ngikut rombongan CB. Sesudah basa-basi, saya beneran tidur. Mungkin cuma 10 menit tidurnya tapi efeknya kerasa enak. Lanjut jalan, kata Denny. Rombongan kami menjadi 8 orang. Oiya motor kami : Denny (P220), Wanwan (P180 ug3), Fathir (P200), Arya (NS), Rangs (Inazuma), Om Ncen (Ducati Monster), Gun Gun (NS), Nova (P200), Mejik (P180 UG4) dan Agus (P220).

Dengan jetski Denny leading the way, kami menuju Ciamis untuk sarapan. Pas masuk Kota Ciamis, hujan gerimis dan lama-lama membesar….kami ber8 menepi untuk pake jas hujan. Baru aja kami pakai celananya masing2, deru suara moge mendekat. Ternyata Om Vincen ! jadilah rombongan kami jadi ber-9, dengan Om Vincen yang keukeuh ga pake jas hujan.

20141205_074833 (Large)
Kami sarapan di Mergosari, dengan lahapnya ayam serestoran itu kami makan. Nasi2nya kami habiskan. Baru makan 1/2nya, datanglah Agus Urgdubai lengkap dengan jas hujannya. Barudak Bandung pada vaping, hanya Rangs yang merokok beneran  dan pusing minjam korek gas padahal ga pada punya. Pada saat makan itu, saya-Nova-Agus ngobrol2 dan menetapkan hati untuk berangkat ke Parangtritis via Daendels. Dan kami akan melewati Pantai Menganti di Kebumen yang kesohor itu.

Cuaca udah cerah sebenarnya, hanya gerimis turun-berhenti-turun-berhenti. Dengan galaunya air hujan, kami ikutan galau untuk pakai jas hujan atau enggak. Jam berapa ya kami berangkat…mungkin jam 10an. Kloter pertama menuju Jogja lewat jalur selatan : Denny, Om Ncen, Wanwan, Gun-gun dan Mejik.

20141205_090623 (Large)
Selang 10 menit, saya-Nova-Agus-Fathier berangkat. Riding ber4 ini sungguh nikmat dibanding riding ber-8an seperti sebelumnya, karena apa ya….enaklah pokoknya. Apalagi kalo ridingnya 2-3an, dengan 1 orang yang paham motor kalo misalkan ada apa-apa. Baru aja riding sekitar ½ jam, hujan yang tadinya gerimis makin lama makin membesar hingga Nova berhenti lalu nyuurh kami untuk pakai jas hujannya masing-masing. Baru aja pake jas hujan, rombongan pertama tadi malah melewati kami…..tampaknya ada trouble atau pada pake jas hujan duluan….

Kami memakai jas hujan dengan menumpang di teras rumah orang, pas kami mau lanjut jalan, ditanya ama yang punya rumah “mau pada kemana Dek? Hujan loh” dijawab rame-rame “hehe…iya bu..mau ke Parangtritis” dibales lagi ama empunya rumah “wuah jauh ya, hati-hati Dek…” lanjut jalan lagi…

Lewatin daerah hutan dengan jalan yang berkelok2 sebelum belokan ke Cilacap ditambah hujan gerimis rasanya enak-enak gimana gitu, dan ga kerasa udah sekitar jam 11 lewat, karena ini hari Jum’at maka Nova melambatkan lajunya untuk cari-cari mesjid. Jum’atan dong, masa iya dilewatin. Alhamdulilah saya tertidur sebentar pas lagi khotbah, saking kurangnya tidur semalam. Tapi khutbahnya sendiri masih pake Bahasa Indonesia, saya kira Bahasa Jawa. Lirik keluar lewat jendela mesjid, mata menangkap cerahnya awan, tanda hujan berhenti. Semangat, ngantuk saya hilang dan asyik menikmati khutbah. Selesai Jum’atan, Nova diajak ngobrol ama penjaga mesjid pake Bahasa Jawa, mungkin kurang lebih ngobrolnya “mau kemana Dek?” “mau ke Parangtritis lewat Cilacap Pak” jawab Nova ramah. (lebih jelasnya mereka ngobrol apa, nanti Nova yang jawab deh)

Karena cuaca cerah dibanding sebelum Jum’atan, kami semua tidak memakai jas hujan dan berharap tidak hujan di sisa perjalanan. Dan terbukti cerah sampe malam ! 

Lanjut jalan, ga lama tiba di perempatan ke Kota Cilacap. Tapi kami melewati beberapa belokan sebelum Nova berbelok ke arah kanan. Saya lupa kami melewati jalan Purwokerto-Gumilir, jalan Candrayuda, atau jalan lainnya, sebelum masuk jalan Raya Adipala alias permulaan Jalan Daendels. ( CMIIW ) yang jelas kami melewati jembatan Kalibodo setelahnya dan foto-foto narsis dulu. Terletak gapura dengan jelasnya di ujung jembatan yang tertulis “Selamat Datang di Kabupaten Kebumen” dan ternyata sungai inilah batas Kabupaten Cilacap dengan Kebumen. “Di depan sana nanti jalannya belok-belok, namanya Ayah, dan nanti kita ke Pantai Menganti. Spotnya mirip ama Puncak Guha” , kata Nova. Menurut googlemap, panjang jalan belok-belok ini hanya sekitar 20 km, baru menuju 100 km lurus tanpa belok-belok di Daendels.
20141205_143723 (Large) 20141205_144233 (Large)
Puas narsis, kami lanjutin perjalanan. Ternyata baru sekitar 15 menit, kami sampai di tujuan setelah melewati jalanan naik turun belok-belok. Mengingatkan saya ke Cisewu namun disini, sebelah kanan langsung terlihat laut selatan. Melewati pasar ikan, kami naik ke bukit yang jalannya tanah merah (untung ga hujan, malah panas) dan pas kami sampe, nampaknya baru aja ada motor megapro jatuh. Yang bawa pasangan rupanya, tapi ga parah amat jatuhnya, maklum, salah pilih jalur naik dan ga pintar2 mainin gas, rem dan kopling, jatuh deh. Setelah parkir, Nova dan Agus manas-manasin saya dan Fathier untuk naik lagi. Fathier ga berani, Nov akhirnya mau jadi penuntun jalan. Saya aja deh yang naik ama Nova, setelah mencopot semua box agar ringan. Setelah melihat 2 metik yang turun dengan pemandangan igo lokal, kami berdua naik melewati jalan curam itu. Naiknya 2x, setelah tanjakan pertama yang tanahnya keras, nyampe di permukaan yang luas, dilapisi rerumputan. Namun tanahnya jenuh air sehingga lumpur dimana-mana. Salah pilih jalur, ban motor akan stuck. Setelah kami berdua sukses melewatinya, masuk ke jalur sempit dengan sisi kanan langsung ke jurang. Barulah sampai di tebing yang banyak dihiasi gubuk-gubuk, mungkin untuk para wisatawan yang ingin istirahat. It is worthed to go here!

20141205_151843 (Large)20141205_152723_Richtone(HDR) (Large)

Sangat mirip dengan Puncak Guha di Garut Selatan, menurut googlemaps, namanya Tanjung Karangboto. Ada 2-3 pasangan yang menikmati gubuk disini, sementara si penjaganya udah ngeliatin kami berdua dengan pandangan yang bilang “kalian berdua mau sewa gubuk ga?” untungnya ga disangka maho, walopun jaket saya dan Nova samaan.
20141205_161459 (Large)
Puas foto-foto disini, kami balik ke tempat Agus dan Fathier menunggu di bawah tadi. Di tengah jalan, ban belakang terjebak di lumpur karena saya salah ambil jalur dan ga terlalu mahir di jalanan lumpur gini. Mana Nova ninggalin saya T_T untungnya ada warga lokal yang naik motor dan si boncenger turun bantuin saya  Dari tempat ini, kami bisa melihat Pulau Nusa Kambangan (kalo ga salah) dan juga tempat lelang ikan. Ga kerasa udah jam 3an, tanda kami harus segera turun dan mencari mesjid untuk Shalat Ashar sebelum jalan lurus Daendels.

Pulang kembali melewati jalanan naik-turun yang tadi, belok ke timur sebelum kami menemukan mesjid yang lagi direnovasi. Agus udah men-jama shalat Ashar jadi dia ga ikut shalat, tugasnya jagain motor ya.  Kayanya kami istirahat sekitar ½ jam disini, baru jam 4an lanjut jalan ke timur….dimana jalanan luruuuusssss menanti kami. Saya jadi RC disini. Perlu dicatat bahwa jalan ini kecil, selebar mobil Innova, bahu jalannya rerumputan yg agak rata dengan jalan. Aspalnya mulus, lubang2 jarang, banyak akamsi ga pake helm. Memang riding belok-belok itu potensi bahaya-nya lebih besar, namun potensi lebih bahaya justru ada di jalan lurus lebih dari 20 km. bosan, ngantuk, cape, apalagi kalo ada akamsi yang nyelonong masuk ke jalan utama tanpa pake noleh. Untungnya saya dan Nova pakai klakson aftermarket jadi Alhamdulilah aman sentausa. Target kami, riding terus sampe ke daerah Ambal yang terkenal dengan satenya. Nova dan Agus selalu ngabibita kalo saus satenya sangat enak, paling enak setelah sate Ponorogo. Makin ga sabar sampe ke Ambal nih jadinya!

Antara jam 6 – ½ 7, kami sampai di Ambal dan langsung parkir di Sate Ayam Pak Kasman Asli. Berikut ini foto sate dan bumbunya yang ENAK itu :

sate ambal

Puas menikmati masing-masing 10 tusuk sate ayam, rasanya ga percaya udah habis begitu saja. Pengen nambah, udah kenyang. Tapi ga nambah, sayang sekali rasanya.  Ah udah deh, siap-siap berangkat, Parangtritis masih jauh, mana udah gelap pula, untung ga hujan. Jam 8an kami riding lagi, Agus yang jadi RC. Sial sekali, jalanan mulai bergelombang cukup parah ditambah gerimis mulai turun. Perut udah kenyang, mana harus nurunin kaki kiri dan kanan untuk ngasitau lubang di jalan ke rider di belakang masing-masing. Sesekali kami berpapasan dengan vespa yang modifnya udah ga karuan. Saya bergumam “parah sekali jalan ini, PU dan Binamarga apa ga bisa merawat jalan ini??” tapi begitu melihat vespa ga karuan itu, saya bersyukur lega tidak harus melewati jalan ini dengan motor itu. Karena modifan mereka sepertinya tanpa sokbreker, ground clearance yang sangat rendah ditambah stang yang tinggi.

Nyampe di Srandakan sekitar jam berapa ya….kami sempat berhenti di lapangan badminton untuk pake jas hujan. Yang jaga warung terkaget-kaget didatangi 4 motor kami dan ngajak saya ngobrol pake bahasa Jawa, saya ga ngerti dan bales ngobrol pake bahasa Indonesia malah dia bales pake bahasa Jawa lagi 😀

Setelah cek dan ricek GPSnya, Nova yang jadi RC jalan pelan-pelan. Alhamdulilah, plang nama PARANGTRITIS kami jumpai, dan masuk mencari penginapan yang bertarif Rp. 50.000 semalam, bisa untuk berdua sekamarnya. Malah bisa saja tarif jam-jaman, if you know what I mean…..

Sampai di penginapan, bayar dulu Rp. 100.000 ke penjaganya, Agus dan Nova jalan keluar lagi nyari minimarket/warung buat beli snack, tapi sangat tidak beruntung karena alfamart yang ada udah tutup. Saya lihat jam 10 malam, pantas aja. Sementara itu saya mandi setelah Fathier.

Fathier yang selesai beres-beres langsung tertidur, saya masih agak kuat beres2 motor… Sebaliknya mereka nyari minimarket, saya udah harum dan mata mulai ngantuk. Saya main dulu di kamar sebelah, sampe akhirnya jam setengah 12 mata ga bisa diajak kompromi lagi…..untuk tidur.

Panjang jalan yang kami hajar hari ini sekitar 390 km.

Hari Ke-1 : Tamat

My 200 NS

Assalamu alaikum wr.wb.

Postingan ini sangat telat, karena odometer di NS saya udah mencapai 1600 km-an 😀 Pengennya sih nulis ini dari awal menerima NS, namun saya tau udah banyak blogger yang menulis hal serupa ketika NS datang, dsb dsb.

Jujur saja, banyak kekurangan motor ini kalo mau saya bawa sehari-hari dan jarak jauh. Misalnya stang terlalu rendah, ga ada standar tengah, ga ada spakbor belakang. Semuanya sudah solved dengan membeli adaptor stang, raiser lurus, stang YT lokal (rencana mau mencoba stang Byson), standar tengah, spakbor belakang, engine guard, termasuk ganti ban, pake wingrack 2 Givi original + box E45NJ. Oli saat ini memakai Castrol GTX 15w-50. Selain itu, kedua busa joknya diganti dengan kepunyaan Vixion dan pake jaring2 gitu deh, lumayan empuk jadinya.

Namun dengan segala macam hal yang ditambah itu membuat teman2 saya bertanya,”kalo banyak modif kenapa ngejual Scorpio yg dulu?” atau “kenapa ga ngambil motor lain? well, nampaknya saya memang tertarik dengan Pulsar NS ini, ga perduli apa kata orang. Udah enak ya mau gimana lagi 😀 😀

IMG_1502 (Large)

IMG_1515 (Large)Jalan2 PP Bandung – Puncak Guha di Rancabuaya

Semoga ini jadi motor terakhir saya, walaupun Z 250 SL sangat menggoda ketika saya nulis ini 😀 😀

Wassalam wr. wb.

Good Bye Scorpio

Selamat tinggal Safarnama, hampir 26 ribu kilometer aspal, beton, gravel, tanah, telah kulalui bersamamu. Semoga kau bahagia bersama majikan baru. Jangan kau kecewakan dia, jangan kau gerogoti dompetnya oleh ganti parts ini itu. Bahagiakan dia seperti kenanganku bersamamu

Thank You Safarnama 🙂

IMG_20140809_091726 (Medium)

1 (Medium)

2 (Medium)

3 (Medium)

5 (Medium)

6 (Medium)

Tag Cloud