Curhatan Arya tentang roda dua

Bismillah, blog aktif lagi karna beberapa minggu ini saya sibuk + males nge-blog, apalagi hari sabtu – minggu tanggal 9-10 Juli kemarin jalan-jalan sekaligus test ride Ninja R …..

Wokeh, back to Title🙂

 

Saya mencermati dalam 1-2 tahun ini makin banyak rider di Bandung yang “alay”. Misalnya berhenti di depan garis putih, naik ke trotoar sampe pejalan kaki diklaksonin, berkendara di tengah jalan dengan kecepatan rendah, naik motornya sempoyongan karena sibuk sms-an, naik flyover Pasupati tanpa helm, ngambil jalur lawan ketika lampu merah atau di perlintasan KA, dan sebagainya.

Malah seminggu yang lalu, saya dalam perjalanan rumah ke kantor, selepas Cicaheum, dipelototin biker lain karena saya berada di lajur saya. Loh kok? Jadi dia memboncengi anak kecil dan istrinya, mungkin hendak menyalip mobil di depannya karena jalanan memang sangat macet hari itu. Sementara saya berada di lajur saya, sama-sama hendak menyalip mobil juga. saya berada kira-kira semeter dari garis putih pembatas jalur., tapi masih di lajur kiri.

Nah daripada tabrakan, saya mengerem dan mempersilahkan mobil di samping saya untuk maju dan saya bisa di belakangnya. Tetapi si rider tadi malah menghardik saya sembari maju. Otomatis saya berhenti dan menoleh ke arahnya dimana dia tetap melaju. Aneh memang, kalaupun tabrakan, pastinya bukan salah saya karena saya ada di lajur saya, dia yang masuk lajur lawan.

 

Mungkin banyak kasus lainnya yan terjadi, namun 1-2 tahun ini kelakuan rider Bandung makin parah. Seandainya ditanamkan pemikiran “hormati sesama pengguna jalan,” mungkin jalanan akan lancar. Problemnya adalah semakin banyaknya kendaraan di jalan, waktu tempuh yang berkurang sementara di jam-jam tertentu banyak orang naik kendaraan sehingga jalanan penuh. Timbullah emosi sesaat dan mengenyampingkan hak orang lain. Timbullah adu mulut dan jual-beli pukulan.

Mungkin karena saya sekarang mengendarai Ninja, banyak yang beranggapan saya ini sejenis “alay”, hahaha….padahal saya selalu mentaati peraturan. Berhenti di belakang garis putih sampai di-klakson mobil selalu saya alami.

Padahal yang saya kenal dari orang Bandung itu, adalah ramah-tamahnya, yang sekarang ini tampaknya memudar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: