Curhatan Arya tentang roda dua

Hari Ke-3 : MINGGU, dan bangunnya jam 7

Pas bangun, saya kaget karena shalat Subuhnya kebablasan. Saya pergi ke kamar mandi untuk poop, pas keluar Mas Bayu bangun dan dia juga sama-sama ga shalat Subuh, wkwkwk….lanjutin tidur-tiduran, ngecas hape sambil cek WA, ngabarin istri, dan mata malah ga bisa tidur lagi walopun badan agak lemes. Tapi Mejik ngeWA kalo di aula ada sarapan, siiiiplah….tapi nanti aja deh sarapannya, mau beres2 barang dulu sebentar. Terutama jas hujan, masker dan sarung tangan dijemur-jemurin. Jam 8an saya ke aula untuk sarapan nasi. Rupanya masih sepi, pas saya lagi duduk sama Mejik dan Denny, Om Dono, Salum dan rombongan ikutan duduk di meja kami. Ooooh…ini toh yang namanya Salum Mbelghedez….xixixi…baru ketemu sekarang ini. Badannya gede, kulit putih, rajin turing serta tidak sombong. Setelah ngobrol-ngobrol ga jelas, saya ama anak-anak CB rundingan mau kemana aja. Hampir semua mau pulang, kecuali saya, Nova dan Agus. Oya Fathier udah dianterin Kang Oma ke stasiun di Solo subuh tadi dan Kang Oma lanjut pulang pake motornya Fathier. Katanya sih Fathier mau ada tes kesehatan untuk masuk kerja hari selasa. Padahal balik sekarang pake motorpun masih keburu kok. Habis rundingan itu, saya balik ke kamar untuk ngasitau Mas Bayu kalo di aula ada sarapan nasi. Lumayaaaaann….

Saya ambil hape dan jalan ke gerbang depan, pengennya foto dengan background Banner Jamnas 6, eh eh ternyata ada bule singapura yang berangkat dari Jakarta bareng ama Dono Andomo, dialah El-Buset. Dua tahun lalu waktu dia ke Bandung, saya ikut menjamu dia yang main ke Bandung dan ikut jalan-jalan malam harinya dengan tikum di rumah Mang Bohay. Anyway, di depan gerbang masuk Jamnas, kami ngobrol-ngobrol dan saya minta dia untuk fotoin saya, hehehe….kapan lagi minta fotoin ama bule :p :p

20141207_080420 (Large)

Setelah difotoin, Om Vincen datang ke parkiran dengan badan segar habis mandi dan menenteng tankbag contin serta helmnya. Nampaknya ada yang mau pulang duluan nih! Segera saya pindahin motor ke depan kamar E, saya masuk ke kamar dan mandi. Mas Bayu sendiri lagi asik mainin hapenya. Kelar mandi, Mas Bayu ngungsi ke parkiran motor untuk liat-liat temen-temen yang berangkat pulang ataupun main ke Tawangmangu (katanya Cuma setengah jam main kesana dari lokasi ini loh). Saya sendiri tadinya pengen main kesana, namun karena perjalanan masih jauh, saya urungkan niat dan lebih memilih main ama Nova ke Dieng via Banjarnegara.
Rebes-rebes box dan ngejemur pakaian, saya buka sidebox kanan dan oalaahhhh….OLI FATHIER TUMPAH (OMFG) untung tumpahnya sedikit, kena toolkit saja. FYI, sidebox kiri isinya tas kecil yang isinya macam-macam alat listrik semisal powerbank, kamera,dsb. Sidebox kanan isinya oli Fathier, sendal, toolkit, dan air minum. Jas hujan diikat di jok belakang. Topbox isinya pakaian dan sejadah. Untuuuunnggg kaga saya simpen olinya di topbox. Alhasil butuh waktu setengah jam untuk ngebersihin, ngelap dan ngejemur sidebox itu. Nova ngeWA kalo kita harus berangkat sekarang kalo ga mau kemalaman nyampe Diengnya. Saya bales “Nov, olinya Fathier tumpah euy di sidebox. Tungguinlah ya sebentar” dan Nova datang ke tempat saya parkirin motor. Selama saya beres-beres, Mas Bejo dan Mas Lingga bolak-balik antara kamarnya dan parkiran. Tampaknya mereka mewakili temen-temen yang pusing beres-beres, apakah mau pulang atau main kemana dulu.

Alhamdulilah beres, Agus datang dan bilangnya “yang jelas saya ga akan ikut ke Dieng, mau main dulu. Nantilah saya kabar-kabarin main kemana aja” dan pamit duluan. Kemudian saya masuk ke aula dan pamitan ama yang ada didalam. Nampak Om Dono lagi dipijat punggungnya pake kursi pemijat. Oiya, beberapa CJ pulangnya pake pesawat dan motornya dipaketin pake truk. Om Dono, Rangs, Mbon dan siapa lagi saya ga ingat. Enaknya…..kalo ada duit sih saya pengen turing sampe ke Lombok, lalu pulang pake pesawat dan motor paketin pake pesawat juga

BERES, mari kita berangkat, Nova! Saya tadinya pengen foto dulu di depan banner Jamnas 6, tapi lagi ada yang narsis dengan motor yang dicat merah-emas kaya warna IronMan. Nungguin lama……ah bullshit nih nungguin ga jelas gini. Kami pamitan ke Om Ade Cahya dan kawan-kawan yang lagi siap-siap juga, lalu ngeeeeeeeeeeeeeeng….bye-bye Karang Anyar, thank you for the Jamnas. Tujuan kami : PASAR KLEWER SOLO. Nova mau beli sesuatu untuk yayangnya..ecieeeee…..suitsuiiwww….

Oh iya kemarin sore ketika rombongan CB naik ke lokasi Jamnas, ada bus umum yang bosan mengaspal dan memilih untuk keluar jalan raya. Dan pagi ini, bus itu masih ngejogrok disitu
20141207_093739 (Large)

Cuma sejam, kami nyampe di tujuan Nova, tidak lain Pasar Klewer. Tapi saya mau COD dulu dengan temen Punisher (Pulsar 200NS on KASKUS) di pintu masuk Pasar, yakni Engine Guard 200NS yang milik Agus Dubai ke Bro Handareka. Ga perlu lama-lama, kami masuk ke parkiran Pasar. ANJRIT PANASNYA….sampe di dalempun masih kerasa panasnya, saya sampe pusing jalan kaki, sementara Nova asyiknya milih-milih baju daster. Saya ikut beli juga karena tergiur, untuk istri dan mamah. Setelah keluar dari dalam pasar, kami jalan-jalan lalu minum dulu Es Degan di depan mesjid agung Solo, romantisnya, xixixi…. serangan panas tadi lumayan berkurang dengan makan es ini. 15 menitan kami nyeruput es, lalu lanjut ke parkiran. Eh sebelah motor kami ada motornya Mas Reza Galau ama istrinya, ga tau kemana. Nampaknya lagi ke dalam Pasar Klewer. Aya ambil 1 foto motornya Reza dan pake jaket, lalu dateng rombongan Pulsar lainnya yang dikomandoi Njup, sambil tunjuk-tunjuk ke kita berdua! Kayanya mereka mau ke Pasar juga, namun sayang parkiran penuh sehingga mereka parkir di tempat lain yang agak jauh. Nova ngajak jalan lagi karena tujuan masih jauh. Saya melihat ke atas, awan di arah tujuan kami menghitam. Semoga tidak hujan!

Kami jalan meninggalkan Pasar dan semrawutnya jalanan Surakarta, sambil ditemani ER6N lokal yang searah dengan kami. Pas masuk ke jalan utama yang mengarah ke Boyolali, hujan turun. Makin lama makin besar, terpaksa deh menepi dan pake jas hujan. Saya sempet ditanya ama Bapak-bapak yang pake jas hujan juga “dari Bandung ya Mas?” “iya pak, tapi mau ke Dieng dulu baru ke Bandung” jawab saya.

“kalo gitu saya duluan ya Mas” katanya sambil berlalu dengan motornya. Baru kami lanjut jalan dengan jas hujan terpakai dan saya sempat ngabarin istri (maklum, newlyweds alias baru menikah jadi ska lupa harus ngabarin ). Di perjalanan, kami melaju bersamaan dengan rombongan Mercedes Benz plat B yang dikawal polisi. Ngapain juga turing dikawal-kawal, emangnya lagi turing di Suriah? Di Israel? Aneh-aneh aja.

Hujan besar yang menimpa kami berlangsung lama sampai ke daerah Samiran dimana kamimakan siang disitu sekaligus melepas lelah dan pegal. Kami makan siang ga jelas disini, karena lauknya udah pada dingin kecuali nasinya. Saya liat jam, menunjukkan pukul setengah 2, hujan rintik-rintik. Sekalain kami shalat Dhuhur dijama Ashar di masjid sebrang wartegnya. Jam setengah 3 kurang, kami lanjut jalan. Antisipasi cuaca, kami tetep pake jas hujan. Ga lama riding, kami bisa melihat dua gunung kembar : kanan Gunung Merbabu dan kiri Gunung Merapi. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter dpl, sementara gunung Merapi 2.968 meter dpl. Jalan aspal mulus sempit berkelok-kelok dengan pemandangan kedua gunung, sungguh mempesona. Dari Boyolali belum terlalu kelihatan soalnya ketutup oleh awan hujan. Setelah kehujanan kira-kira sejam, kami bisa melihat indahnya kedua gunung itu. Hujan berhenti, jalan mulus berkelok-kelok, dengan pemandangan gunung yang angkuh namun kokoh. Puncak Gunung Merapi agak tertutup awan, sementara Merbabu jelas. Mendengar namanya saja, Merapi, membuat saya terbayang-bayang seandainya gunung ini meletus dan mengeluarkan laharnya, saya akan berhenti, menelpon istri saya bahwa saya mencintainya. Lalu menelpon ayah dan ibu saya, mengatakan betapa saya mencintai kalian berdua dan terima kasih sudah melahirkan saya ke dunia ini. Ah tapi itu hanya lamunan, moga-moga ga meletus gunungnya

Saya pengen sekali menepi dan ambil foto di beberapa belokan jalan, karena spotnya sungguh indah. Tapi Nova melaju kencang, seolah tidak peduli dengan jeritan hati saya ini. Saya salah, karena Nova berhenti di Ketep Pass….indahnya!! cekidot foto-fotonya :

20141207_151123 (Large)20141207_151208 (Large)20141207_151800 (Large)

Lokasi Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan dan diresmikan oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri ini banyak sekali wisatawan, masuk ke dalamnya mesti bayar entah berapa. Kata Nova, di dalam ada teropong yang langsung mengarah ke puncak Merapi. Waktu erupsi tahun 2006, lava-nya terlihat jelas via teropong. Tapi kami berdua hanya diam diluar, menikmati pemandangan sambil bernarsis ria. Merasa cukup dan tanpa dikomandoi, kami siap-siap lagi dan lanjut jalan. Jam menunjukkan pukul setengah 4. Alamat nyampe Dieng gelap dan berkabut ini dong !

Goodbye Ketep Pass, kami bertolak menuju Dieng. Kali ini kami mengarah dulu ke Secang lalu Temanggung. Dari Ketep ke Secang, jalannya enak dilalui. Secang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berada di bagian utara Kabupaten Magelang, dan dilewati jalur utama Semarang-Yogyakarta dan Semarang-Temanggung-Purwokerto. Ga ada yang istimewa di jalan ini, cuaca sudah cerah sejak diatas tadi, dan kami melipat jas hujan walopun sudah sore. Makanan khas Secang tidak lain Bebek Goreng, tapi saying kami diburu waktu sehingga tidak sempat menikmatinya. Lalu kami masuk Temanggung, kota kecil namun terkenal oleh buah lengkengnya, yang berbuah di bulan Januari-Februari. Bulan Desember ini belum ada, tentunya.

Lewat Temanggung, kami masuk ke Kota Purakan dan menurut GPS Nova, kami belok kanan ke arah Tambi, melalui kabut Gunung Sindoro, 3.150 dpl. Kalau kami menuju Wonosobo, kami bisa melihat gunung kembar kedua yakni Gunung Sindoro di kanan dan Gunung Sumbing (3.371 dpl) di kiri. GPS Nova mengatakan bahwa jalur via gunung Sindoro adalah jalur tercepat, ya udah saya ikuti wong dia ini RC-nya

Begitu memasuki daerah gunung yang terus menerus naik, kabut turun dan matahari sudah pergi menerangi belahan bumi yang lain. Nova tidak yakin dengan rute ini, namun GPnya sih ga salah. Saya sendiri yakin karena hafal dengan suasana jalan ini. Dua tahun lalu, saya dengan Agus menginap di Dieng via Banjarnegara, juga tidak melalui Wonosobo. Suasana jalannya yang bergelombang, kabut, gelap dan udara dingin sanget menyiksa, apabila jalan sendirian. Alhamdulilah tidak ada apa-apa, walaupun kedua rute ini membuat saya agak bergidik karena ada suasana mistisnya. Serasa ada yang memperhatikan kami di kegelapan kanan dan kiri jalan. Tentu saja kami tidak bisa melihat kemana-mana, tertutup kabut dan tiada penerangan kecuali lampu motor kami. Baru ¼ jalan, Nova berhenti dan mengecek GPSnya. “benar kok jalannya, tapi kok saya ragu ya?” Tanya Nova ke saya. Saya menepi dan standar samping si NS, merenggangkan kaki. Lalu berkata,”ayo jalan aja Nov, saya yakin kok. Kalo kata GPS bener, hayu ah” jam menunjukkan 7 lebih. Alesan saya minta jalan lagi ya karena suasananya ga enak (walopun di siang hari, kanan kiri kami hanyalah hamparan kebun teh). Karena kawasan ini suhu udara cukup dingin, sejak zaman penjajahan Belanda telah berdiri pabrik Teh Tambi. Mungkinkah ada kejadian menyeramkan dahulu kala?? Entahlah….

Saya jadi RC untuk sisa perjalanan ini. “udah deket kok di peta, sekitar 10km an” kata Nova. Sumpah, jalan menyeramkan ini lagi-lagi harus saya lewati. Jarak pandang Cuma 1-2 meter, lampu apapun yang kami miliki tidak bisa menembus kabut tebal. Tapi entah kenapa, saya suka situasi ini. Kapan lagi jalan malam dengan sahabat, menembus kabut tebal? Mirip game Silent Hill.

Memang jalur ini kami lalui tidak lama, setelah melalui perkampungan, kami sampai di pertigaan. Nova bilang kalo uang di dompetnya tinggal Rp. 50.000 sementara saya sekitar Rp. 25.000. Saya tidak hafal kalau di daerah Dieng (belok ke kanan) ada bank dan atm, maka saya belok ke kiri ke arah Wonosobo untuk nyari atm dan mungkin nyari mie ongklok, khas Wonosobo. Sekitar 3 km kemudian, kami menemukan BRI lengkap dengan atmnya. Sayang ga ada yang jual mie ongklok, jadi setelah ngambil duit, kami puter balik ke arah Dieng. Eh ternyata dari pertigaan Tambi tadi itu ada juga BRI 😯

Jalannya sungguh enak, namun pikiran itu seketika lenyap karena di depan ada longsoran! Untung banyak warga yang sedang menyingkirkan tanah dan jalan bisa dilalui walau hanya 1 arah saja. Thank You Guys.

Mendekati jam 19.30, kami sampai di pertigaan Dieng-Cikunir, finally ! Saya hanya mengenal 1 homestay yakni Dieng Plateau Homestay, yang terletak persis di pertigaan itu, sebelah kanan kalo dari arah Wonosobo. Kami parker di teras, saya masuk ke lobby dan ngobrol dengan yang jaga. Tarifnya Rp. 100.000 untuk kamar biasa non TV dan KM luar, Rp. 200.000 untuk KM dalam dan ada TV. Kami ambil yang Rp. 100.000 dan langsung masukin motor ke dalam rumah. Punggung pengen banget rebahan, walopun harus beres-beres motor dulu. Eh Nova ngajak nyari makan, dan baru nyadar kalo perut saya lapar juga.

Setelah beres-beres, kami jalan-jalan ke Masjid Agung Dieng tapi kurang pencahayaannya untuk narsis ria😀 Makin jauh jalan ke arah Cikunir, kayanya ga ada warung makan yang buka. Puter balik karena saya tau ada warung makan yang ke jalan arah Candi, Nova malah minta saya fotoin dia di plang nama jalan -_- Setelah nemuin warung makan yang buka, kami pesan soto ayam jamur. Nyam nyam…uenaakkk…sayang si ibu ga jual mie ongklok. Duh, akankah kami bisa makan mie ongklok? Masa besok harus turun ke Wonosobo?? Lagi makan1/2 jalan, datang 4 turis lokal lainnya yang ikut makan. Di etalase, kami melihat ada manisan Carica dan tentu saja, Purwaceng. Too late for Purwaceng coffee, besok ajalah.

Balik ke kamar, beres-beres box lagi, ganti baju, sikat gigi dan tidur. Pas di atas kasur, Nova cerita kalo dia pengen ke Cikunir untuk melihat sunrise yang melegenda itu. Dan bermaksud bangunin saya jam 3-4an. Untung saja jam 3 itu, ketika dia bangun, turun hujan gerimis sehingga menatap sunrise di Cikunir harus batal. Lagian walopun kita kesana maksain, awan hujannya menghalangi matahari. Oya sebelum tidur, saya memakai celana training, kaos kaki, kaos, jaket tebal, neck warmer, kupluk dan sarung tangan plus selimut dari kamar. Hehehe…..sementara teman tidur saya cukup pede ga pake kaos kaki dan pake sleeping bag, setelah bilang kalo slimutnya buat saya aja. Saya heran kok barang bawaan dia cukup banyak tapi muat di 2 sideboxnya, sementara saya harus 3 box baru muat. Belum pas pulang, tankbag diikat di jok belakang untuk memberi space oleh-oleh di box belakang.

Hari Ke-3 : Tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: