Curhatan Arya tentang roda dua

Hari ke-4 : SENIN

Setelah jam 3an dibangunin Nova dan gagal ke CIkunir, kami tidur lagi. Jam 7an kami bangun dan lagi-lagi Shalat Subuh terlewat. Nova ngajakin main sekaligus syuting ke daerah masjid kesana dan Candi-candi. Setelah nyawa terkumpul, saya lihat peta dibawah kalo ke arah Cikunir itu palingan liat-liat Telaga Warna. Oh iya mandinya kami lewatin agak siangan biar ga kedinginan.

Setelah ritual pagi berupa sikat gigi, mascara, eyeshadow, eyeliner, ga lupa bedak dan lipstick, walopun tanpa mandi, kami pede keluar dan momotoran ke arah Barat. Saya kira jauh ternyata pintu masuk Telaga Warna itu ga nyampe 2 km dari guest house. Parkir motor di seberang loket, kami bayar Rp.3.000 untuk motor. Agak mahal juga walaupun sekarang bukan weekend. Kemudian kami masuk ke Telaga Warna lewat pintu depan. Di loketnya, kami bayar Rp. 7.500 untuk 1 orang. Kemudian ada 1 orang yang nawarin diri menjadi tour guide, namun kami tolak karena kami ingin suasana romantis berdua (hoeekk). Kami sandal masuk lalu di pertigaan pertama belok ke kiri, karena di peta yang ada di pintu masuk, ke kiri itu kami bisa melihat view Telaga dari atas bukit (tentunya harus naik gunung tapi tidak terlalu tinggi kok) hanya sandal pilhan saya salah sehingga agak licin, beda ama sendal gunung Nova. Setelah berjalan kaki naik sekitar 15 menit, kami sampai di puncaknya….sebenernya ada puncaknya lagi tapi spot ini udah sangat bagus untuk ……narsis

20141208_082250 (Large) 20141208_082315 (Large) 20141208_085353 (Large)

Sambil narsis, saya kirim-kirim foto ke grup WA dan ke instagram, karena disini ada sinyal Simpati. SInyal XL yang Nova pakai tidak ada, jadinya dia tethering ke saya Kalo naiknya tadi cape di paha, sekarang kalo turunnya bikin cape betis karena nahan grip sendal yang licin -_- Untunglah saya nyampe di bawah dengan selamat, lalu lanjut ke sebelah kiri dari pertigaan tadi, yakni ke arah Komplek Gua (ada Gua Semar, Gua Jaran, Batu Tulis dan Kolam kecil di Gua Sumur) . Sayang karena hari sudah agak siang, kami hanya jalan-jalan sampe ke Batu Tulisnya saja. Ada patung yang mirip patung Gajahmada (CMIIW) di depan Batu Tulisnya, dan kami foto-foto disitu saja, soalnya udah makin siang dan kami belum main ke Kawasan Candi Dieng.

Pada saat kami jalan naik ke atas bukit, kami melihat ada 1 gerbang masuk dan 1 lokasi sebelah tembok yang tidak dijaga sama sekali. Payah nih, kalau kami tahu, kami masuk lewat sini aja. Bukannya menghemat Rp 7.500, tapi penjagaannya kurang bagus, perlu jadi catatan bagi pengelola Dieng.

Anyway, kami berjalan kaki ke motor, karena kalau merangkak itu terlalu ekstrim. Pada saat motor menyala, hujan gerimis mulai turun, membuat kami bergegas mencari Pintu masuk ke Candi Dieng. Eh ternyata dari guest house ga jauh juga, ada sekitar 500 meter. Dari guest house, ambil arah ke Pekalongan, lalu pertigaan kecil pertama ke kiri, kelihatan kok dari plang namanya. Sayang seribu saying, tidak ada tulisan / papan nama Candi ini di depan, sehingga narsis ama motor ga akan bisa. Kalau di dalam ada. Saat mau parkir motor, kami kebetulan berpapasan dengan petugas tiket dan saya bayar tiket masuknya, hanya Rp 5.000 per orang. Saat itu hujan udah agak membesar, jadi setelah motor diparkirkan, kami bergegas ke warung sebelah pintu masuk (yang tidak ada petugasnya) dan bertanya-tanya tentang Buah Carica dan Kopi Purwaceng. Eh malah ditawarin Kopinya, ya udah kebetulan belum ngopi, apalagi Nova memesan kentang untuk ganjel perut. Kentangnya pake bumbu aneka rasa seperti di mall, namun kentangnya besar-besar dengan harga hanya Rp. 10.000…..murah dan enak bingits !

Setelah makan, hujannya galau. Kadang berhenti kadang gerimis. Nama tempat ini Candi Arjuna yang diresmikan oleh Ir. Jero Wacik, Menteri Kebudayaan kita pada tahun 2008. Disini, tempatnya luas, rumputnya itu loh yang menjadi bahan perbincangan Nova karena rumputnya bagus banget. Apa iya kita boleh menginjaknya? Sayang juga rumput sebagus ini jadi bahan foto narsis, apalagi ada syuting video Syahrini ala Arya :

Tapi tidak hanya video terheboh abad ini, ada juga foto-foto lainnya :

20141208_100237 (Large) 20141208_100325 (Large) 20141208_100426 (Large) 20141208_100927 (Large) 20141208_101102 (Large) 20141208_101637 (Large)

Ada juga sekitar 2 pasangan cowo-cewe dan 1 pasangan cowo-cowo serta 1 keluarga disini yang ikutan guling-guling eh ikutan foto-foto, tapi ga ada yang segila saya Jam setengah 11, kami cabut keluar lokasi Candi ini. Kami melihat ada warung nasi yang menjual mie ongklok dalam perjalanan dari Telaga ke Candi ini. Semoga beneran ada dan semoga rasanya memang enak, seenak yang Arif Soekocok katakana di WA. Syukurlah hujan benar-benar berhenti, walaupun awan tidak mengijinkan matahari menghangati kami. Sesampainya di warung nasi itu, kami tersontak kaget. Karena penjualnya ternyata gadis manis….ternyata ada ibunya akhirnya ada juga “pemandangan” di Dieng ini

Mie ongklok ini….rasanya memang seperti mie biasa namun yang membedakan itu bumbunya. Saya kutip dari salah satu website :

 

Yang istimewa dari mie ongklok ini adalah kuahnya, kuah yang terdiri dari campuran air dan tepung tapioca ini disajikan hangat-hangat. Kuahnya kental dan lezat, anehnya ketika sudah dingin kuahnya justru lebih cair. Padahal cairan tepung tapioca sewajarnya akan mengental ketika suhu cairan mulai dingin.

mi-ongklok1

Sumber : http://nana-nanudz.blogspot.com/2014…lon-dieng.html

Harga mie yang enak ini, harganya saya lupa tapi rasanya sekitar Rp. 10.000 belum ama minum teh tawar. Nova sempat ngobrol kalo di Bandung, teh tawar itu gratis, udah termasuk dalam makanan. Kalo di Jawa, malah harus bayar antara Rp 1.000-2.000. Beruntunglah Bandung. Selesai bayar, kami kembali ke Guest House untuk mandi, beres-beres lalu pulang. Sayang sekali, kami ingin menginap 1 hari lagi sebenarnya karena semua lokasi di Dieng mestinya sih bisa dikunjungi sehari penuh, pulangnya tengah malam sekalian. Nanti saja kalo ada rejeki, kesini lagi kapan-kapan.

Jam 12.45 kami berangkat pulang ditemani cuaca yang galau lagi. Jalur pulang kami : Dieng – Kajen – Pekalongan – Pemalang – Tegal – Brebes – Cirebon – Sumedang – Bandung. Artinya kami pulang lewat Pantura, sesuatu yang baru buat saya. 2 tahun yang lalu, saya pernah lewat pantura tapi hanya dari Subang ke Indramayu saja, dimana bagian pantura-nya cuma beberapa kilo. Namun sangat berkesan karena saya harus jalan kencang dengan truk di depan dan samping. Truk berbobot pulhan ton dengan kecepatan setidaknya 80 kpj tentunya menyeramkan.

 20141208_123636 (Large)

Anyway baidewei, perut kenyang membuat kami siap jalan jauh, dan sebisa mungkin makan malam di Cirebon. Berangkat! Otewe Kajen ! Nova yang lagi-lagi menjadi RC. Berbekal GPSnya, kami dengan mulus melaju turun. Goodbye Dieng, thank you for the cold air and memorable spot. Jalan 85% mulus, namun sempit, dan sayang sekali selama jalan turun ini, saya yang tadinya pengen foto dengan background Dieng Plateau harus mengubur dalam-dalam karena tertutup awan tebal. Sesampainya di bawah, kami menemui pertigaan. Kanan maupun kiri sama-sama mengarah ke Kajen, namun belokan ke kiri melewati jalan Paninggaran yang lebih berkelok-kelok daripada jalan kanan. Di googlemaps, jarak keduanya hampir sama sekitar 75 km atau 2 jam perjalanan.

Jalur ini melewati hutan dan sesampainya di suatu spot yang lumayan bagus, kami behenti. Jalan itu bermula dari turunan, belok ke kiri melewati jembatan pendek dengan sawah di kanan kiri. Di jalan pendek setelah jembatan itu kami berhenti, Nova ngecek GPSnya sekalian minum dan saya pengen pipis sekalian. Baru aja turun ke samping jalan (sepertinya tempat pembakaran daun kering) daeng 2 pulsar yang salah satunya saya kenal: Praba Seno ditemani oleh Ari Bajaj. Wekekekek…..tenyata mereka semalam menginap di daerah Wonosobo dan tidak naik ke Dieng karena kemalaman. Memang ketika di Karang Anyar, Praba bilang kalo dia berencana pulang lewat Dieng. Ternyata ketemu disini Ngeliat jam ternyata baru jam 2 siang.

20141208_140659_Richtone(HDR) (Large)

Setelah sama-sama pipis dan ngobrol tentang motor masing-masing, kami lanjut jalan berempat dengan urutan Praba-Ari-Nova-saya. Nah kesenangan bermula disini, dimana kami memasuki daerah hutantapi masih ada perkampungan dengan jalan berbelok-belok namun mulus. Mirip-mirip Cisewu. Saya dan mungkin Nova berjalan tidak secepat Praba jadinya lama-lama kami tertinggal. Baru keluar dari daerah pepohonan masuk kota kecil yang namanya Kajen. Dari sini ke Pantura sekitar 22 km menurut GPS Nova. Sayang lalu lintasnya agak kacau dengan banyaknya rider ugal-ugalan. Beberapa kali saya disalip metik ga jelas yang entah tujuannya mau sama-sama kencang atau mengganggu. Untung udah ganti klakson aftermarket yang suaranya kencang jadi pengacau itu bisa mengerti kalo kami lagi riding berdua & melaju kencang.

Sampailah di lampu lalu lintas, hal yang aneh karena terakhir lihat lampu ginian itu di Surakarta. Nova berkata ketika kami berhenti karena lampu merah “nah ini udah Pantura, dari sini belok ke kiri terus luruuuuss aja sampe Cirebon.” wah udah deket nih, pikirku. Amboy ternyata masih jauh…..xixixi…ngeliat papan nama jarak di jalan : Jakarta 370an km dan bandung sekitar 280an km. Halah 9 jam lagi dong kurang lebih.

Baru jalan sekitar 5 km, saya pencet klakson supaya Nova minggir nyari minimarket soalnya agak laper plus bahu kanan sakit, mungkin karena pegal atau akumulasi kepegalan 3,5 hari turing. Apalagi yang Long Way Round itu ya? Sehari sekitar 280 km (total 20.000 mil lebih ditempuh dalam 115 hari) dan jalannya ½ mulus ½ ga ada jalan, hanya berbekal GPS dan peta. Sekarang sih enak ada hape android/iphone lengkap dengan aplikasi peta, baik bawaan atau 3rd apps missal sygic, garmin, dsb.

Baidewei kami akhirnya berhenti di minimarket dan melepas lelah sejenak, nyatanya kami istirahat sekitar ½ jam. Istirahat kami sempat terganggu dengan kehadian cewe ber-rok mini keluar dari mobil panther, sayang aplikasi kamera malah ngadat -_-

Entah jam berapa, saya lupa, kalo ga salah kami lanjut jalan jam 4an. Setelah bayar parker seikhlasnya, saya jadi RC. Cihuy, mari kita let’s go. Do’a saya agar jangan hujan setidaknya di Pantura. Eh baru aja ngebut sekitar 10 km, hujan turun makin lama makin besar. Harapan saya, makin jauh jalan main ga hujan ternyata salah. Saya ngasih isyarat ke Nova untuk menepi di minimarket dan pake jas hujan. Kemudian jalan lagi.

Cukup lancar perjalanan ini sampe ga kerasa melewati Tegal. Dari pertigaan tadi ke Brebes sekitar 62 km. Dari Tegal sampe ke Cirebon sekitar 67 km, dan saya melihat awan gelap lengkap dengan petirnya sedang menyambar daerah Cirebon. Sebelum sampe di Kota Cirebon, kami melewati 1 proyek perbaikan jalan saja, kemudian jembatan kecil namun berundak-undak. Sat itu saya sadar kalo kedua jalu stang saya hilang. Terbang entah kemana. Saat itu saya melihat spion, Nova ga ada. Saya tunggu sekitar 5 menit ga nongol-nongol. Sempat terpikir jangan-jangan Nova melindas jalu stang saya yang jatuh, tapi kemudian dia dating sambil ½ teriak “bensin habis banget Ya!” wekekek…untung di depan ada pom bensin, hujan agak kecil saat itu.

Setelah kami berdua isi bensin, kami riding lagi, saya ga ingat jam berapa namun masih terang saat itu, mungkin sekitar jam 5. Kemudian menjelang maghrib, saya merasa pundak sebelah kanan sakit bukan main. Saya menepi ke pm bensin dan berkata ke Nova “Nov pundak kanan saya sakit banget, sekalian Shalat Maghrib dan Isya aja ya disini.” ”Oke” kata Nova.

Sambil melepas sepatu, jas hujan, back support, jaket Contin, saya wudhu trus Shalat Maghrib. Habis itu pundak kanan saya olesi dengan Freshcare alias minyak Agnes, xixixi….  soanya bintang iklannya kan Agnes yang sekarang jadi aneh karena berotot. Kemudian Nova shalat. Menunggu waktu Isya, kami ngobrol dan kata Nova, kita makan malam Empal Gentong di Cirebon. “Moga-moga keburu soalnya waktu kemarin pulang dari Malang lewat sini, tempatnya udah tutup. Makanya nanti kamu jalannya agak cepat ya” kata Nova ke saya. “okay saya usahain, moga-moga hujannya mengecil” jawab saya.

Setelah Shalat Isya, kami pakai gear hujan kembali dan hape android saya cas dan masukin ke sidebox kiri. Boros juga hape ini kalo pake kartu Simpati. Dengan hujan gerimis yang masih turun, kami melanjutkan jalan ke Cirebon. Di tengah perjalanan yang ditemani hujan deras, saya sekilas melirik ke kiri jalan tepatnya ke minimarket, nampak ada 2 motor sport dengan 1 orang lagi ngutak-ngatik motornya. Karena hujan deras dan lagi kecepatan tinggi sekitar 170 kpj, saya kira itu orang lain yang bukan rombongan Prides. Sekitar 1 jam kemudian, dengan Nova yang mimpin ketika mau masuk Kota, kami tiba di restoran yang Nova maksud. Alhamdulilah Empal Gentong H. Apud masih buka!

20141208_202818_LLS (Large) 20141208_203737 (Large)

Selama menunggu pesanan 2 Empal Gentong, saya WA dengan istri serta pasang status di FB kalo kami minta ijin melintas Cirebon untuk makan disini. Eh direspon oleh Om Ade Schwarzenegger. Katanya jangan dulu pergi, mau dibekali sesuatu (entah bercanda entah tidak) tapi karena kami ingin buru-buru pulang dan juga tidak mau merepotkan beliau, kami segera pergi dari situ. Untung aja Om Ade pengertian Dan ternyata motor yang tadi saya lihat itu adalah Om Praba dan Om Ari dimana bodikom motor Om Ari trouble. Tadinya mereka istirahat karena kehujanan, begitu motor dinyalain eh motornya Om Ari ga bisa hidup. Alhasil mereka menginap di rumah salah satu CC (saya lupa siapa yang mereka tumpangi).

Syukurlah perut kenyang lagi, jadi tidak khawatir di perjalanan pulang mampir-mampir dulu ke restoran mana. Dari sini ke kami tidak lewat Majalengka, hometown-nya Sidky, mantan wakechap Bandung, namun lurus ke Jatiwangi. Selama perjalanan dari keluar Cirebon sampe sekitar Jatiwangi, jalanan didominasi oleh truk sedang dan minibus. Saya paling susah jalan malam dikasih hujan, karena faktor mata kanan yang silindris dan kedua mata yang minus. Ditambah salah satu minibus memasang lampu ala DRL berwarna biru seperti mobil patrol polisi, membuat saya susah konsentrasi ke jalan.

Untunglah sampe Sumedang, hujan udah berhenti tapi becek dimana-mana. Pantat, kaki dan bahu kanan udah pegal sekali. Berkali-kali kedua kaki menumpang di EG. Lewat Sumedang, Nova berhenti di pom bensin untuk istirahat. Wah padahal istirahatnya di Sumedangnya aja, kata saya. Kita bisa minum susu murni atau ngopi-ngopi, syukur-syukur digodain wanita malam (wanita beneran tentunya )

Setengah jam lebih kemudian, kami jalan lagi, setelah mengelap kaca helm dan saya pake sarung tangan (selama perjalanan dari pom bensin sebelum Cirebon tadi saya ga pake sarung tangan, agar bisa mengelap kaca helm yang basah).

Sumedang-Ujungberung merupakan rute paling menjemukan. Walau udah jam setengah 1 tapi masih banyak truk di jalan. Sampai di perempatan Cikutra, Nova pamit belok ke kanan, saya lurus ke Dago. Sesampainya di Dago, saya narsis dulu di Cikapayang

20141209_010546 (Large)

Alhamdulilah jam 1.15 nyampe rumah dengan selamat, dengan istri tercinta yang membukakan pintu rumah

More photos : http://s1329.photobucket.com/user/di…?sort=3&page=1

Total perjalanan pulang : 360 km selama 12 jam 30 menit.
Total perjalanan 4 hari : 770 km + 360 km = 1130 km.

Hari ke-4 : TAMAT

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: