Curhatan Arya tentang roda dua

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Well, mungkin RR ini lebih spesifik ke perjalanan saya menuju jamnas 6 dan mindik-mindiknya😀

Sebelum Hari H

Pada Jamnas 5 tahun 2013 yang diadakan di Jatiluhur, saya melihat bahwa pendaftar pertama Jamnas mendapat hadiah doorprize, maka karena itulah ketika pembayaran Jamnas 6 dibuka, saya langsung segera membayar. Ternyata nomor rekening BCA yang tercantum di POL itu salah, saya mengingatkan ke Mas Damar dan akhirnya diperbaiki. Dan Mas Damar memberitahu bahwa saya adalah pendaftar pertama, wah kebayang nih setidaknya saya udah mengantongi 1 hadiah. Ternyata di Jamnas 6? Hmm….tidak dapat😦

Pada kopdar tanggal 2 desember, anak2 CB membahas beberapa rute dan tikum menuju ke Jamnas. Saya tadinya pengen ke parangtritis via daendels. Nova dan Agus masih belum tau lewat mana yang jelas males melewati jalur selatan biasa. Fathir berhasil membujuk saya untuk pergi ke Dieng lewat Wonosobo. Denny, Om Ncen, Wanwan, Mejik dan ada om Rangs yang lewat selatan biasa. Denny juga bilang kalo Rangs lagi ada di bandung dan mau ikut rombongan CB. Terakhir, kloter kereta diikuti oleh Kang Oma (Yogi) dan Kang Kutu (Syarif) berangkatnya sabtu pagi. Tikum disepakati di Ampera Cileunyi selewat Kahatex jam 4 dinihari, jam setengah 5nya berangkat. Deal deh biar cepet😀

Gak lupa, kamis sore saya ngisi si NS dengan Pertamax Plus di pom bensin Dago, sampe full Cuma 25ribu

20141204_165032 (Large)

Hari ke-1 : JUMAT

Seperti biasanya kalo mau jalan jauh, saya kena sindrom susah tidur  jam 1 kebangun sampe jam 3….istri ikut bangun dan bantu siap2in sarapan (makasih yayang) ternyata prepare barang2nya lama walopun semalam udah packing2. Ga kerasa pas mau brangkat, adhan Subuh berkumandang. Tadinya mau shalat di tempat tikum, akhirnya di rumah aja, ngirim WA ke anak2 supaya duluan aja dan nanti saya susul (entah dimana). Tidak lupa saya meneguk minuman energy untuk membantu menguatkan badan selama perjalanan. Jam 4.15 saya otewe meninggalkan istri sambil ditemani hujan gerimis. Alhamdulilah lancar sampe agak macet di pasar (alun2) ujungberung. Sampe di kahatex ketemu Mejik (God’s Magic) yang lagi buka2 hapenya. Kami berdua jalan sedikit dan berhenti di tempat tikum. Ga ada siapa2! Fathir ngesms bahwa mereka (dia, Denny, Wanwan dan Rangs) udah jalan dan berhenti di pom bensin yg ada pemandian air panasnya itu (sebelum Ciamis). Gak lama, Nova datang. Agus ngesms duluan aja, dia jalan kalo matahari udah terbit karena mata kanannya lagi sakit. Om Ncen nungguin gerimis di Cimahi agak mereda. Tepat jam 5.15, kami jalan bertiga.

Bismillahirohmannirohim…..

Saya – Mejik – Nova memulai perjalanan ini dengan melewati Rancaekek, dengan matahari yang mulai bangun menyinari Bandung Timur. Perjalanan kami lancar dimana bus, truk dan mobil pribadi tidak terlalu banyak di jalan. Ga pake lama, kami berhasil sampai di pom bensin yang Denny maksud. Ya lama juga sih sekitar 1 jam nyampe kesananya. Saya rebahan sebentar karena memang kurang tidur, dan efek dari minuman tadi subuh belum keluar. Baru juga mau merem, datang temen dari Punisher (Pulsar 200NS Kaskus Is Here) yang namanya Rahmat Gunawan dipanggilnya Gun-gun. Dia ceritanya mau ke Malang dan ngikut rombongan CB. Sesudah basa-basi, saya beneran tidur. Mungkin cuma 10 menit tidurnya tapi efeknya kerasa enak. Lanjut jalan, kata Denny. Rombongan kami menjadi 8 orang. Oiya motor kami : Denny (P220), Wanwan (P180 ug3), Fathir (P200), Arya (NS), Rangs (Inazuma), Om Ncen (Ducati Monster), Gun Gun (NS), Nova (P200), Mejik (P180 UG4) dan Agus (P220).

Dengan jetski Denny leading the way, kami menuju Ciamis untuk sarapan. Pas masuk Kota Ciamis, hujan gerimis dan lama-lama membesar….kami ber8 menepi untuk pake jas hujan. Baru aja kami pakai celananya masing2, deru suara moge mendekat. Ternyata Om Vincen ! jadilah rombongan kami jadi ber-9, dengan Om Vincen yang keukeuh ga pake jas hujan.

20141205_074833 (Large)
Kami sarapan di Mergosari, dengan lahapnya ayam serestoran itu kami makan. Nasi2nya kami habiskan. Baru makan 1/2nya, datanglah Agus Urgdubai lengkap dengan jas hujannya. Barudak Bandung pada vaping, hanya Rangs yang merokok beneran  dan pusing minjam korek gas padahal ga pada punya. Pada saat makan itu, saya-Nova-Agus ngobrol2 dan menetapkan hati untuk berangkat ke Parangtritis via Daendels. Dan kami akan melewati Pantai Menganti di Kebumen yang kesohor itu.

Cuaca udah cerah sebenarnya, hanya gerimis turun-berhenti-turun-berhenti. Dengan galaunya air hujan, kami ikutan galau untuk pakai jas hujan atau enggak. Jam berapa ya kami berangkat…mungkin jam 10an. Kloter pertama menuju Jogja lewat jalur selatan : Denny, Om Ncen, Wanwan, Gun-gun dan Mejik.

20141205_090623 (Large)
Selang 10 menit, saya-Nova-Agus-Fathier berangkat. Riding ber4 ini sungguh nikmat dibanding riding ber-8an seperti sebelumnya, karena apa ya….enaklah pokoknya. Apalagi kalo ridingnya 2-3an, dengan 1 orang yang paham motor kalo misalkan ada apa-apa. Baru aja riding sekitar ½ jam, hujan yang tadinya gerimis makin lama makin membesar hingga Nova berhenti lalu nyuurh kami untuk pakai jas hujannya masing-masing. Baru aja pake jas hujan, rombongan pertama tadi malah melewati kami…..tampaknya ada trouble atau pada pake jas hujan duluan….

Kami memakai jas hujan dengan menumpang di teras rumah orang, pas kami mau lanjut jalan, ditanya ama yang punya rumah “mau pada kemana Dek? Hujan loh” dijawab rame-rame “hehe…iya bu..mau ke Parangtritis” dibales lagi ama empunya rumah “wuah jauh ya, hati-hati Dek…” lanjut jalan lagi…

Lewatin daerah hutan dengan jalan yang berkelok2 sebelum belokan ke Cilacap ditambah hujan gerimis rasanya enak-enak gimana gitu, dan ga kerasa udah sekitar jam 11 lewat, karena ini hari Jum’at maka Nova melambatkan lajunya untuk cari-cari mesjid. Jum’atan dong, masa iya dilewatin. Alhamdulilah saya tertidur sebentar pas lagi khotbah, saking kurangnya tidur semalam. Tapi khutbahnya sendiri masih pake Bahasa Indonesia, saya kira Bahasa Jawa. Lirik keluar lewat jendela mesjid, mata menangkap cerahnya awan, tanda hujan berhenti. Semangat, ngantuk saya hilang dan asyik menikmati khutbah. Selesai Jum’atan, Nova diajak ngobrol ama penjaga mesjid pake Bahasa Jawa, mungkin kurang lebih ngobrolnya “mau kemana Dek?” “mau ke Parangtritis lewat Cilacap Pak” jawab Nova ramah. (lebih jelasnya mereka ngobrol apa, nanti Nova yang jawab deh)

Karena cuaca cerah dibanding sebelum Jum’atan, kami semua tidak memakai jas hujan dan berharap tidak hujan di sisa perjalanan. Dan terbukti cerah sampe malam ! 

Lanjut jalan, ga lama tiba di perempatan ke Kota Cilacap. Tapi kami melewati beberapa belokan sebelum Nova berbelok ke arah kanan. Saya lupa kami melewati jalan Purwokerto-Gumilir, jalan Candrayuda, atau jalan lainnya, sebelum masuk jalan Raya Adipala alias permulaan Jalan Daendels. ( CMIIW ) yang jelas kami melewati jembatan Kalibodo setelahnya dan foto-foto narsis dulu. Terletak gapura dengan jelasnya di ujung jembatan yang tertulis “Selamat Datang di Kabupaten Kebumen” dan ternyata sungai inilah batas Kabupaten Cilacap dengan Kebumen. “Di depan sana nanti jalannya belok-belok, namanya Ayah, dan nanti kita ke Pantai Menganti. Spotnya mirip ama Puncak Guha” , kata Nova. Menurut googlemap, panjang jalan belok-belok ini hanya sekitar 20 km, baru menuju 100 km lurus tanpa belok-belok di Daendels.
20141205_143723 (Large) 20141205_144233 (Large)
Puas narsis, kami lanjutin perjalanan. Ternyata baru sekitar 15 menit, kami sampai di tujuan setelah melewati jalanan naik turun belok-belok. Mengingatkan saya ke Cisewu namun disini, sebelah kanan langsung terlihat laut selatan. Melewati pasar ikan, kami naik ke bukit yang jalannya tanah merah (untung ga hujan, malah panas) dan pas kami sampe, nampaknya baru aja ada motor megapro jatuh. Yang bawa pasangan rupanya, tapi ga parah amat jatuhnya, maklum, salah pilih jalur naik dan ga pintar2 mainin gas, rem dan kopling, jatuh deh. Setelah parkir, Nova dan Agus manas-manasin saya dan Fathier untuk naik lagi. Fathier ga berani, Nov akhirnya mau jadi penuntun jalan. Saya aja deh yang naik ama Nova, setelah mencopot semua box agar ringan. Setelah melihat 2 metik yang turun dengan pemandangan igo lokal, kami berdua naik melewati jalan curam itu. Naiknya 2x, setelah tanjakan pertama yang tanahnya keras, nyampe di permukaan yang luas, dilapisi rerumputan. Namun tanahnya jenuh air sehingga lumpur dimana-mana. Salah pilih jalur, ban motor akan stuck. Setelah kami berdua sukses melewatinya, masuk ke jalur sempit dengan sisi kanan langsung ke jurang. Barulah sampai di tebing yang banyak dihiasi gubuk-gubuk, mungkin untuk para wisatawan yang ingin istirahat. It is worthed to go here!

20141205_151843 (Large)20141205_152723_Richtone(HDR) (Large)

Sangat mirip dengan Puncak Guha di Garut Selatan, menurut googlemaps, namanya Tanjung Karangboto. Ada 2-3 pasangan yang menikmati gubuk disini, sementara si penjaganya udah ngeliatin kami berdua dengan pandangan yang bilang “kalian berdua mau sewa gubuk ga?” untungnya ga disangka maho, walopun jaket saya dan Nova samaan.
20141205_161459 (Large)
Puas foto-foto disini, kami balik ke tempat Agus dan Fathier menunggu di bawah tadi. Di tengah jalan, ban belakang terjebak di lumpur karena saya salah ambil jalur dan ga terlalu mahir di jalanan lumpur gini. Mana Nova ninggalin saya T_T untungnya ada warga lokal yang naik motor dan si boncenger turun bantuin saya  Dari tempat ini, kami bisa melihat Pulau Nusa Kambangan (kalo ga salah) dan juga tempat lelang ikan. Ga kerasa udah jam 3an, tanda kami harus segera turun dan mencari mesjid untuk Shalat Ashar sebelum jalan lurus Daendels.

Pulang kembali melewati jalanan naik-turun yang tadi, belok ke timur sebelum kami menemukan mesjid yang lagi direnovasi. Agus udah men-jama shalat Ashar jadi dia ga ikut shalat, tugasnya jagain motor ya.  Kayanya kami istirahat sekitar ½ jam disini, baru jam 4an lanjut jalan ke timur….dimana jalanan luruuuusssss menanti kami. Saya jadi RC disini. Perlu dicatat bahwa jalan ini kecil, selebar mobil Innova, bahu jalannya rerumputan yg agak rata dengan jalan. Aspalnya mulus, lubang2 jarang, banyak akamsi ga pake helm. Memang riding belok-belok itu potensi bahaya-nya lebih besar, namun potensi lebih bahaya justru ada di jalan lurus lebih dari 20 km. bosan, ngantuk, cape, apalagi kalo ada akamsi yang nyelonong masuk ke jalan utama tanpa pake noleh. Untungnya saya dan Nova pakai klakson aftermarket jadi Alhamdulilah aman sentausa. Target kami, riding terus sampe ke daerah Ambal yang terkenal dengan satenya. Nova dan Agus selalu ngabibita kalo saus satenya sangat enak, paling enak setelah sate Ponorogo. Makin ga sabar sampe ke Ambal nih jadinya!

Antara jam 6 – ½ 7, kami sampai di Ambal dan langsung parkir di Sate Ayam Pak Kasman Asli. Berikut ini foto sate dan bumbunya yang ENAK itu :

sate ambal

Puas menikmati masing-masing 10 tusuk sate ayam, rasanya ga percaya udah habis begitu saja. Pengen nambah, udah kenyang. Tapi ga nambah, sayang sekali rasanya.  Ah udah deh, siap-siap berangkat, Parangtritis masih jauh, mana udah gelap pula, untung ga hujan. Jam 8an kami riding lagi, Agus yang jadi RC. Sial sekali, jalanan mulai bergelombang cukup parah ditambah gerimis mulai turun. Perut udah kenyang, mana harus nurunin kaki kiri dan kanan untuk ngasitau lubang di jalan ke rider di belakang masing-masing. Sesekali kami berpapasan dengan vespa yang modifnya udah ga karuan. Saya bergumam “parah sekali jalan ini, PU dan Binamarga apa ga bisa merawat jalan ini??” tapi begitu melihat vespa ga karuan itu, saya bersyukur lega tidak harus melewati jalan ini dengan motor itu. Karena modifan mereka sepertinya tanpa sokbreker, ground clearance yang sangat rendah ditambah stang yang tinggi.

Nyampe di Srandakan sekitar jam berapa ya….kami sempat berhenti di lapangan badminton untuk pake jas hujan. Yang jaga warung terkaget-kaget didatangi 4 motor kami dan ngajak saya ngobrol pake bahasa Jawa, saya ga ngerti dan bales ngobrol pake bahasa Indonesia malah dia bales pake bahasa Jawa lagi😀

Setelah cek dan ricek GPSnya, Nova yang jadi RC jalan pelan-pelan. Alhamdulilah, plang nama PARANGTRITIS kami jumpai, dan masuk mencari penginapan yang bertarif Rp. 50.000 semalam, bisa untuk berdua sekamarnya. Malah bisa saja tarif jam-jaman, if you know what I mean…..

Sampai di penginapan, bayar dulu Rp. 100.000 ke penjaganya, Agus dan Nova jalan keluar lagi nyari minimarket/warung buat beli snack, tapi sangat tidak beruntung karena alfamart yang ada udah tutup. Saya lihat jam 10 malam, pantas aja. Sementara itu saya mandi setelah Fathier.

Fathier yang selesai beres-beres langsung tertidur, saya masih agak kuat beres2 motor… Sebaliknya mereka nyari minimarket, saya udah harum dan mata mulai ngantuk. Saya main dulu di kamar sebelah, sampe akhirnya jam setengah 12 mata ga bisa diajak kompromi lagi…..untuk tidur.

Panjang jalan yang kami hajar hari ini sekitar 390 km.

Hari Ke-1 : Tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: